Sabtu 11 Nov 2017 05:10 WIB

Akifah Baxter: Tiada Tuhan Selain Allah

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko
Mualaf
Foto: Onislam.net
Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keingintahuan yang besar dan pantang menyerah untuk menemukan kebenaran telah membawa Akifah Baxter untuk memeluk Islam. Perjalanannya untuk memahami Islam mulai terang benderang saat mantan penganut Kristen yang menetap di Amerika Serikat ini berjalan di sebuah toko buku. Saat itulah, ia menemukan sebuah buku tentang Islam yang akhirnya mengubah keseluruhan cara berpikir spiritualnya.

Bukan berarti, Baxter tidak menyadari akan keberadaan Tuhan sebelumnya. Ia mengatakan, dia selalu merasa bahwa Tuhan ada. Namun, ia berusaha untuk mencari kebenaran akan Tuhan.
 
Sebagai penganut Kristen saat itu, Baxter telah menghadiri banyak gereja. ia juga telah berbicara dengan berbagai orang dari agama yang berbeda. Namun, ia masih merasa hampa akan kebenaran. Masih ada yang mengganjal di hati Baxter. Ia merasa, ajaran yang ia terima di gereja-gereja masih belum sepenuhnya benar.
 
Tidak hanya itu, Baxter juga pernah mendengar banyak orang di masa lalu yang mengatakan dirinya percaya kepada Tuhan. Namun, mereka tidak menganut agama apapun. Dalam hal ini, Baxter memandang mereka salah.
 
Bagaimanapun, Baxter tidak ingin menerima suatu pemahaman begitu saja. Ia masih tetap berusaha untuk menemukan titik terang akan kebenaran tentang Tuhan yang hakiki.
 
"Saya tahu, bahwa jika Tuhan ada, maka dia tidak akan membiarkan kita tanpa arah, atau bahkan terjebak dalam versi kebenaran yang menyesatkan. Pasti ada sebuah rencana, agama yang benar. Saya hanya harus berusaha menemukannya," kata Baxter, dilansir dari Arab News, Kamis (9/11).
 
Berbagai gereja Kristen telah ia datangi. Di sana, ia memfokuskan pencariannya. Sederhana saja, Baxter hanya berupaya mencari kebenaran di gereja karena ia tumbuh dalam pemahaman agama Kristen. Meski ada beberapa ajaran yang dipandangnya benar.
 
Namun, Baxter menilai ada banyak pandangan yang berbeda dengan ajaran yang ia terima di gereja. Ia merasa ada banyak ajaran yang bertentangan, yang berkaitan dengan hal-hal mendasar. Seperti bagaimana berdo'a, siapa yang dido'akan, siapa yang akan 'diselamatkan', dan siapa yang tidak, serta apa yang harus dilakukan seseorang untuk mendapatkan keselamatan. Baxter merasa ajaran yang ia terima begitu berbelit-belit.
 
Ia hampir saja menyerah untuk melanjutkan pencariannya akan kebenaran. Baxter semakin frustasi, tatkala ia mendatangani gereja lainnya. Di dalamnya, mereka membahas soal pandangan tentang Tuhan dan tujuan dari keberadaan manusia di dunia. Baxter masih merasa gundah, karena ia merasa ajaran tersebut juga tidak benar.
 
Hingga suatu hari, ia jalan-jalan di toko buku dan menghampiri bagian buku-buku tentang agama. Baxter berdiri dan memandangi sebagian besar buku-buku Kristen. Saat itu, terbersit dalam pikirannya untuk melihat buku-buku tentang Islam.
 
Baxter benar-benar tidak memahami apa-apa tentang Islam. Namun, tangannya mengarahkannya mengambil sebuah buku. Ia lantas membuka buku pertama yang ia ambil semata-mata karena keingintahuannya. Namun, Baxter menjadi semakin bersemangat dengan buku yang ia baca.
 
"Salah satu hal pertama yang mengejutkan saya ialah pernyataan 'Tidak ada Tuhan selain Allah,' Dia tidak memiliki sekutu, dan semua do'a dan penyembahan ditujukan hanya kepada-Nya. Ini terasa begitu sederhana, begitu kuat, begitu mengena dan masuk akal," lanjutnya.
 
Sejak itulah, Baxter mulai membaca segala hal tentang Islam. Ia merasa, semua ajaran tentang Islam yang ia baca sangat masuk akal baginya. Baxter merasa, semua teka-teki tentang kebenaran akhirnya terpecahkan dan gambaran yang jelas mulai muncul.
 
Baxter mengatakan, ia merasa sangat gembira dan akan terpacu setiap kali ia membaca apapun tentang Islam. Saat ia membaca Alqur'an, ia merasa benar-benar diberkahi karena mampu membacanya. Baxter memahami, bahwa Alqur'an adalah petunjuk yang datang langsung dari Allah melalui Rasul-Nya.
 
"Ini adalah kebenaran. Saya merasa seperti selama ini saya telah menjadi seorang Muslim, tapi saya tidak tahu hingga sekarang. Sekarang saatnya saya memulai hidup sebagai seorang Muslim. Saya memiliki rasa kedamaian dan perasaan aman, karena saya mengetahui apa yang saya pelajari adalah murni kebenaran dan akan membawa saya lebih dekat dengan Allah. Semoga Tuhan terus membimbing saya. Amin," pungkasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement