Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Mengenal Al-Muhasibi, Peletak Dasar-Dasar Ilmu Tasawuf

Senin 17 Jun 2019 11:29 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Tarian sufi (ilustrasi).

Tarian sufi (ilustrasi).

Foto: trekearth.com
Al-Muhasibi didaulat sebagai peletak dasar ilmu tasawuf.

REPUBLIKA.CO.ID, Semula tasawuf memang belum dikenal sebagai salah satu disiplin ilmu tersendiri, hingga pada masa Abu Abdullah al-Harits al-Muhasibi. Dia dianggap sebagai pelopor lahirnya ilmu tasawuf. Al-Muhasibi lahir di Bashrah pada 165 H/781 M. Ayahnya merupakan penganut aliran Muktazilah yang gigih mendakwahkan pemikiran rasionalnya.

Saat masih kecil, ayahnya membawanya hijrah ke Baghdad  dan di sana dia belajar fikih, hadis, ilmu Alquran, kalam, dan terakhir tasawuf. Dia mendapat julukan al-Muhasibi lantaran senang melakukan muhasabah. Al-Muhasibi meninggal di Badhdad pada 234 H/857 M.

Baca Juga

Menurut Abdul Kadir Riyadi, dalam Arkeologi Tasawuf, menjelaskan semasa hidupnya, al-Muhasibi mencoba menawarkan dimensi moral dalam Islam, seperti kezuhudan, untuk disetarakan sebagai sebuah pengetahuan yang utuh dan sistematis seperti ilmu fikih dan hadis yang sudah lebih dahulu terbentuk. Dia berupaya membangun keilmuan baru dalam Islam yang kemudian dikenal sebagai tasawuf. 

Abdul Kadir mengatakan, semangat rasional yang dimiliki al-Muhasibi mendorongnya untuk melahirkan banyak gagasan mengenai ilmu tasawuf. Gagasannya tersebut dia tuangkan dalam beberapa karyanya seperti al-Washaya dan al-Ri’ayah li Huquqillah dan sebagian ada di kitab Mahiyat al-Aql serta kitab Fahm Alquran wa Ma’anihi.

Karya-karya tersebut merupakan prestasi besar al-Muhasibi yang sulit ditandingi karena dia hidup di era awal yang sangat jarang munculnya karya ilmiah. Di saat orang-orang masih berpikir tekstual terhadap agama, al-Muhasibi sudah melangkah jauh dan berpikir ke depan. 

Al-Muhasibi adalah sosok yang cerdas dan cerdik. Dia membungkus ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf dengan simbol-simbol fikih. Dia kerap menggunakan terma-terma hukum fikih untuk menjelaskan persoalan teologis, filosofis, dan spiritualitas. Dia berangkat dari fikih, lalu bergerak maju ke ranah filsafat dan menjadikan tasawuf sebagai tujuannya.  

Tasawuf al-Muhasibi disebut sebagai tasawuf Sunni dan sesuai dengan Alquran dan Hadits. Dia mendapat label “kesesuaian dengan Alquran dan hadis” karena mampu membangun tasawuf berdasarkan norma-norma agama. Selain itu, karena dia juga mampu mengakomodasi kepentingan para pakar fikih.  

Setelah al-Muhasibi, upaya untuk menyejajarkan tasawuf dan ilmu keislaman lainnya dilakukan Abu Nasr al-Sarraj. Dialah orang pertama yang dengan tegas mengatakan bahwa tasawuf adalah bagian dari Islam. Tidak ada kesesatan dalam tasawuf. 

photo

Zikir (Ilustrasi)

Dia mengatakan, apabila ada seseorang mempunyai persoalan yang terkait dengan landasan, hakikat, dan hukum, maka selayaknya dia bertanya kepada ulama yang ahli di bidangnya, misalnya ulama ahli hadis, fikih, dan tasawuf.  

Corak keilmuan yang ditangkap oleh al-Muhasibi kemudian juga menjadi petunjuk bagi al-Ghazali ketika menyusun Ihya Ulumiddin, karya al-Ghazali yang sangat terkenal dalam khazanah pemikiran Islam dan banyak diajarkan di pesantren-pesantren Indonesia.

Dalam kitab al-Kawakib al-Durriyah fil Tarajum al-Saddat al-Sufiyah, Zainuddin Muhammad Abdul Rauf al-Manawi menulis bahwa dalam banyak kesempatan al-Ghazali telah mengakui al-Muhasibi sebagai guru terbaiknya, terutama dalam hal pendekatan dan metodologi. Sementara, dalam hal pendalam materi, guru terbaik al-Ghazali adalah al-Makki yang menulis kitab Qut al-Qulub.

Dalam membangun ilmu tasawuf, al-Muhasibi menggunakan pendekatan rasional, sehingga tak heran jika ada sejumlah tokoh terdahulu yang tidak setuju dengan gagasannya tersebut. Di antaranya adalah Ahmad bin Hanbal, yang menggunakan pendekatan literal dalam memahami Islam.

Ahmad bin Hanbal yang terkenal di bidang Fikih menuduh pemikiran al-Muhasibi sebagai sesat dan bid’ah. Penilaian ini diberikan karena pendekatannya yang tidak tekstualis sehingga dianggap melenceng dari Alquran dan hadis.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA