Minggu, 12 Jumadil Akhir 1440 / 17 Februari 2019

Minggu, 12 Jumadil Akhir 1440 / 17 Februari 2019

Pemilik Apotek Pertama Era Dinasti Umayyah Seorang Kristiani

Rabu 02 Jan 2019 10:17 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Nashih Nashrullah

Seorang petugas merapikan obat-obatan di salah satu apotek (ilustrasi).

Seorang petugas merapikan obat-obatan di salah satu apotek (ilustrasi).

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ibnu Uthal pengkaji alkemis tentang racun dan penangkalnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam satu abad setelah kematian Nabi pada 632 M, pendekatan sistematis paling awal untuk masalah obat-obatan sedang berlangsung di Damaskus tepatnya di istana tempat para Umayyah berkuasa. 

Efek dari gigitan ular dan anjing, dampak buruk dari kalajengking, laba-laba dan hewan lainnya menjadi perhatian. 

Termasuk yang mendapat perhatian adalah sifat beracun yang berasal dari mineral dan tumbuhan seperti aconite, mandrake, dan black hellebore yang dieksploitasi. 

Seperti kebanyakan pada bidang kedokteran saat itu, dokter-dokter Yunani yaitu Galen dan Dioscorides dianggap sebagai para ahli kuno. 

Untuk membangun karya mereka, para penulis Muslim mengajukan diskusi dengan minat khusus yaitu racun dan theriacs atau antidotes. 

Kematian mendadak di istana kerajaan bukanlah hal yang baru. Bahkan seringnya dianggap sebagai hasil racun meskipun seringnya analisis ini keliru. 

Tidak mengherankan, rasa takut akan racun meyakinkan para pemimpin Umayyah untuk mempelajari, mendeteksi, dan menyembuhkan racun itu. Akibatnya, banyak apotek Islam awal dijalankan oleh alkemis yang bekerja di bidang toksikologi. 

Pemilik apotek pertama adalah Ibn Uthal, seorang Kristiani yang berperan sebagai dokter untuk melayani khalifah Umayyah pertama, Muawiyah. 

Ibn Uthal adalah seorang alkemis terkenal yang telah melakukan studi sistematis tentang racun dan penangkalnya. Ia juga dilaporkan diam-diam menjabat sebagai algojo Mu'tawi. 

Pada 667 M Ibnu Uthal diracun karena usaha balas dendam oleh keluarga salah satu korbannya. Sosok lainnya yang menjabat sebagai apoteker dan dokter lainnya adalah Abu al-Hakam al-Dimashqi yang melayani Umayyah kedua, Yazid. 

Putra Yazid, Khalid ibn Yazid, sangat tertarik pada alkimia dan mempekerjakan filsuf Yunani yang tinggal di Mesir. Dia memberikan upah yang sangat baik dan mereka menerjemahkan buku-buku Yunani dan Mesir tentang kimia, kedokteran, dan astronomi dalam bahasa Arab. 

Sebaya dengan Khalid, yaitu Jabir ibn Hayyan, yang dikenal dengan Geber di wilayah Barat. Jabir mempromosikan alkimia sebagai sebuah profesi, dan meletakkan pondasi awal bagi penelitian kimia dan biokimia.  

Para alkemis Islam ini terbukti teliti dan gigih dalam eksperimen mereka dan membuat pengamatan tertulis yang cermat dalam setiap hasil yang didapatkan. 

Mereka merancang eksperimen untuk mengumpulkan informasi dan menjawab pertanyaan dengan lebih spesifik, dan lewat usaha mereka alkimia ilmiah muncul. 

Mereka menghindari keyakinan yang tidak terbukti atau takhayul untuk mendukung kompilasi dan penerapan prosedur, pengukuran, serta percobaan yang terbukti dapat diuji dan direproduksi. Pekerjaan mereka mewakili munculnya metode ilmiah yang sebenarnya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES