Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Itaewon: Titik Pertemuan Korea dan Islam

Rabu 06 May 2015 02:17 WIB

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko

Masjid Seoul

Masjid Seoul

Foto: Wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID, ITAEWON -- Suatu sore bergerimis di Itaewon, Seoul, banyak orang menyusuri jalan menuju masjid terbesar di Korea itu.

Jalan sepanjang 200 meter itu tampak seperti jalan-jalan lain di kota. Tapi kini, "the Islamic street,” begitu jalan itu biasa disebut, sering dikunjungi oleh umat Islam. Sepanjang jalan berjajar toko-toko khas Arab dan restoran yang menjual masakan halal.

"Saat ini, semakin banyak orang datang untuk berjalan-jalan dan mengunjungi masjid," kata Talat Masood (68), seorang pegawai supermarket di dekat Masjid Pusat Seoul, seperti dilansir dari muslimvillage.com, Selasa (5/5).

Lelaki asal Pakistan ini mengaku telah menyaksikan perubahan cepat di lingkungan tersebut. Ketika ia datang ke Korea 14 tahun silam sebagai pekerja pabrik, tidak ada toko-toko atau restoran yang menghiasi sepanjang jalan.

Pembangunan jalan di sekitar masjid Seoul baru dimulai tahun 1993, saat pemerintah memperkenalkan sistem trainee industri. Hal itu membuka jalan bagi umat Islam, terutama dari Asia, untuk masuk dan bekerja Korea.

Sejak itu, restoran, toko-toko, dan agen-agen perjalanan didirikan untuk melayani populasi Muslim yang berkembang. Jalanan itu sangat padat pada hari Jumat, ketika lebih dari 1.000 Muslim mengunjungi Masjid Seoul untuk menghadiri shalat Jumat.

Namun, pada waktu-waktu yang lain, jalan lebih dipadati wisatawan Muslim daripada jamaah. Jumlah wisatawan Muslim terus meningkat rata-rata 20 persen setiap tahun. Menurut data Korea Tourism Organization, sekitar 75 ribu Muslim mengunjungi Korea tahun lalu.

“Pelanggan utama saya adalah wisatawan Muslim yang sedang melakukan perjalanan di Korea untuk berwisata atau mendapatkan perawatan medis,” kata Kamran Mahboob (37), pemilik restoran Little India Seoul. Mahboob membuka restoran halal pada 2013 setelah terpaksa menutup bisnis perhiasannya di tengah lonjakan produk-produk Cina di pasaran.

Noor Juwaini (32), seorang turis lain, mengunjungi jalan itu untuk menemukan restoran halal yang menyajikan makanan Korea. “Itaewon hampir satu-satunya tempat untuk mencicipi makanan Korea yang terbuat dari daging halal,” kata Juwaini, yang menyantap daging sapi berbumbu Korea, atau bulgogi.

Tidak hanya wisatawan asing, daerah ini juga menarik perhatian dari Korea lokal.  Lee Eun-hye (31), seorang pekerja kantor, dan pacarnya biasa berjalan-jalan ke tempat itu saat kencan di akhir pekan. Ia merasa seperti tidak sedang berada di Seoul saat berjalan di sepanjang jalan ini. “Lain kali, saya ingin membawa teman-teman saya dan mencoba makanan Islam,” kata Lee.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA