Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Kesadaran untuk Berbagi

Senin 24 Jun 2019 16:00 WIB

Red: Agung Sasongko

berinfak melalui kotak amal di masjid. ilustrasi

berinfak melalui kotak amal di masjid. ilustrasi

Foto: Republika
Kesadaran untuk berbagi begitu ditekankan Rasulullah SAW.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kokohnya peradaban Islam dilandasi kokohnya ukhuwah kaum Muslimin. Hal pertama yang dikerjakan Rasulullah SAW setibanya di Yatsrib adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Sebagai saudara mereka saling menanggung. Sebagai satu tubuh mereka saling merasakan.

Kaum Muhajirin hanya membawa iman saat datang ke Madinah. Mereka meninggalkan hampir semua perbekalan dunia di Makkah. Beberapa di antara mereka bangkit dan menjadi mandiri di Madinah. Sebagian yang lain memilih memperdalam keimanan sembari hidup sederhana. Mereka yang hidup sederhana ini dikenal dengan Ahlu Suffah.

Allah kemudian menciptakan sebuah amal untuk memperkuat hubungan kaum Anshar dengan para Ahlu Suffah. Allah SWT berfirman, "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (QS al-Baqarah [2]: 273).

Imam al-Qurthubi menerangkan ayat di atas berkaitan dengan Ahlu Suffah yang hidup di pelataran Masjid Nabawi. Mereka adalah kaum Muhajirin yang meninggalkan harta benda mereka di Makkah demi hijrah. Al Baghawi menyebut, para Ahlu Suffah tinggal di masjid sembari belajar Alquran. Ketika siang hari mereka mencari makan dengan memecah biji kurma. Mereka selalu ikut serta ketika Rasulullah SAW mengirimkan pasukan perang.

Inilah kemuliaan keduanya. Para Ahlu Suffah adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Mereka bahkan digambarkan oleh Allah sebagai orang-orang fakir. Namun, mereka memegang teguh kemuliaan mereka. Meski tak mampu, mereka hanya memiliki satu niat yakni berjuang di jalan Allah. Maka, mereka paham jika mereka harus menahan diri dari meminta-minta. Padahal mereka serba kekurangan. Dalam riwayat lain, mereka hanya bergantung pada belas kasihan orang-orang Madinah yang menggantungkan tangkai kurma di masjid. Para Ahlu Suffah tetap enggan meminta-minta, kecuali dalam keadaan mendesak.

Sementara kaum Anshar sebagai tuan rumah diberi kesempatan amal yang mulia, berinfak. Infak yang diberikan kepada saudara-saudara mereka yang sudah menahan tangan mereka untuk meminta-minta. Lewat infak, berjuta kebaikan hadir. Sang pemberi mendapat ganjaran yang berlipat. Lewat kesadaran infak, sang penerima terjaga kemuliaannya dengan menghindari meminta-minta. Infak juga menjadi wasilah eratnya persaudaraan sesama kaum Muslimin. Hari ini kita menyebutnya jaring pengaman sosial, ibadah sosial, kesalehan sosial, dan beragam definisi lainnya.

Kesadaran untuk berbagi begitu ditekankan Rasulullah SAW. Jika objek yang dituju jelas dan amat butuh, maka jangan ragu untuk mengeluarkan harta terbaik yang kita miliki. "Siapa saja yang memiliki makanan untuk dua orang," sabda Nabi SAW suatu kali, "bawalah orang ketiga dan siapa saja yang memiliki makanan untuk empat orang bawalah orang kelima dan seterusnya." (HR Bukhari).

Ikatan sosial dalam bingkai amal menjadi sebuah pondasi yang amat kuat dalam masyarakat Islam. Yang punya dan mampu tidak harus dipaksa dengan berbagai aturan-aturan. Mereka memiliki kesadaran agar rela berbagi. Kesadaran ini berkelindan dengan seberapa tinggi keyakinannya kepada Allah SWT. Balasan-balasan orang yang berinfak adalah balasan-balasan ukhrawi.

Sementara orang yang menerima, mereka tetap bisa beraktivitas dengan bantuan dari saudaranya. Mereka fokus mendalami Alquran dan berjihad di jalan Allah jika panggilan itu datang. Bantuan tak membuat mereka malas diri dan tergantung. Mereka tak memanfaatkan kemurahan hati saudaranya untuk berleha-leha. Ahlu Suffah adalah murid-murid yang senantiasa hadir dalam setiap majelis-majelis ilmu Rasulullah. Mereka semakin rajin meraih keutamaan dan amal nyata.

Ramadhan ini, kesadaran orang untuk berbagi meningkat. Berharap balasan yang agung membuat setiap insan tergerak untuk mengalokasikan pengeluaran untuk amal-amal di jalan Allah. Pengeluaran yang sunah dan wajib dalam bentuk zakat ditunaikan demi mengharap ganjaran yang setimpal.

Di sisi lain, kesadaran orang untuk berbagi "dimanfaatkan" beberapa pihak dengan menyengaja menjadi kaum papa. Mereka mengulurkan tangan dengan aktif, sesekali memaksa. Mereka menahbiskan diri sebagai orang yang paling pantas untuk dibantu. Pekerjaan mereka bukan berjihad atau fokus beribadah sehingga tak sempat berkarya. Namun, mereka fokus meminta sehingga tak sempat beribadah.

Jika yang terjadi seperti itu, pemberian hanya tinggal pemberian. Tak ada penguatan ikatan. Yang satu hanya sebatas memberi, sementara yang menerima hanya berharap menerima. Berinfak seharusnya memberikan efek kuatnya ikatan. Ada hubungan erat antara sang pemberi dan yang menerima. Infak harus menguatkan bangunan peradaban. Infak menjadi pengokoh dasar terbentuknya masyarakat Islam dalam bentuknya yang paling sederhana, ukhuwah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA