Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Empat Pesan Menag dalam Pembukaan Konferensi Alquran JQH-NU

Senin 20 May 2019 22:36 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat membuka Konferensi Alquran Jam'iyyayul Qurra' wal Huffadz JQH-NU di Hotel Sriwijaya Jakarta, Senin (20/5).

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat membuka Konferensi Alquran Jam'iyyayul Qurra' wal Huffadz JQH-NU di Hotel Sriwijaya Jakarta, Senin (20/5).

Foto: Dok Istimewa
Menag berpesan agar Alquran dipahami secara baik dan benar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan pemahaman terhadap kandungan Alquran memiliki tingkat urgensi dan relevansi yang tinggi dengan kebutuhan masyarakat era milenial saat ini. 

Baca Juga

“Sebanyak apapun akademisi, ilmuwan dan para ahli yang nanti akan dilahirkan oleh sejumlah lembaga pendidikan kita, itu akan nyaris tidak memiliki arti jika tidak memiliki pemahaman agama yang benar. Apalagi kita merasakan gejala fenomena akan adanya jalan pintas dalam memahami Islam, termasuk mempolitisasi agama,” kata Lukman saat membuka Konferensi Alquran Jam'iyyayul Qurra' wal Huffadz JQH-NU di Hotel Sriwijaya Jakarta, Senin (20/5). 

Dalam kesempatan tersebut, Lukman berpesan empat hal kepada para peserta konferensi. Pertama, umat Kslam Indonesia harus disadarkan bagaimana menerjemahkan dan menafsirkan ayat-ayat Alquran. “Karena kita masih sering menghadapi kesalahpahaman seakan-akan terjemah Alquran atau tafsir Alquran itu adalah Alquran itu sendiri,” kata dia.  

Kedua, ahli Alquran agar memberi penjelasan yang menyeluruh terkait bagaimana mengkontekstualisasikan Alquran dengan realitas kekinian. “Teks Alquran itu memiliki relevansi yang tinggi karena dia menjadi sumber rujukan utama pedoman hidup kita,” tutur dia.  

Ketiga, ahli Alquran agar mensosialisasikan kandungan Alquran, sehingga tetap memiliki relevansinya dengan kekinian. Dia berharap agar isu-isu aktual dan isu klasik bisa dirujuk sumbernya dalam Alquran, misalnya relasi antara negara dengan agama, isu gender, dan isu hak asasi manusia. 

Keempat, mamahami Alquran itu tidak mudah. Lukman berpesan agar Ulama Alquran menjelaskan kepada umat bahwa untuk menerjemahkan dan memahami Alquran itu harus menguasai berbagai macam ilmu, mulai dari ilmu kaidah bahasa Arab, ilmu balaghah, nasikh mansukh, ilmu asbabun nuzul, dan lain sebagainya, sehingga umat Islam tidak cenderung mengambil jalan pintas dalam memahami Alquran.

Konferensi yang berlangsung 21-22 Mei 2019 tersebut juga akan dihadiri para ahli Alquran seperti Prof M Quraish Shihab, Prof Nasaruddin Umar, Prof Sayid Aqil Husein al-Munawar, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhamad Zainul Majdi, Ustaz Yusuf Mansur, dan para pakar Alquran lainnya.  

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA