Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Canda dan Tangis Rasulullah SAW

Senin 20 Mei 2019 20:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Rasulullah

Rasulullah

Foto: Wikipedia
Menangis karena takut kepada Allah merupakan perbuatan mulia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abdullah bin Mas'ud meluluskan permintaan Muhammad SAW. Ia membacakan Alquran untuk nabi pamungkas itu. Sebelumnya, Abdullah merasa aneh dengan permintaan tersebut karena tentu sebagai utusan Allah SWT, Muhammad lebih tahu. Namun karena Rasul mendesaknya, ia menurutinya juga. Ia melantunkan surah an-Nisa mulai dari awal. 

Setelah mencapai ayat 41, Abdulllah diminta menyudahi bacaannya. "Sampai di situ saja." Sesaat berselang, Abdullah melihat ke arah Rasulullah. "Ternyata, kedua matanya telah mengalirkan air mata," ujarnya seperti diuraikan dalam hadis riwayat Bukhari. Tangis karib dengan diri Muhammad. Bukan hanya saat mendengarkan Alquran, tetapi juga saat menjalani ibadah lainnya. 

Abdullah bin al-Syakhir menyampaikan kesaksiannya mengenai tangisan laki-laki yang menjadi panutan itu. Ia pernah berkunjung ke rumah ayah Fatimah tersebut dan mendapatinya sedang shalat. "Dari dadanya saya mendengar suara bergolak bak air yang sedang mendidih karena tangis," ungkapnya. Tangis Rasul karena kedekatan dan pengharapan kepada Allah SWT. 

Menangis karena takut kepada Allah dan ingat kelak akan kembali kepada-Nya merupakan perbuatan mulia. Ada tujuh kelompok orang yang akan memperoleh nauangan dari Allah di hari kiamat, salah satunya adalah orang yang berzikir di tempat sepi kemudian mengalirkan air mata. Menurut Rasulullah, ada dua mata yang selamanya tak akan disentuh api neraka. 

Keduanya adalah mata yang menangis karena malu kepada Allah dan mata yang tidak terpejam karena berjaga-jaga dalam jihad di jalan Allah. Dalam buku Kangen Sama Rasul karya Amr Khaled dan Aid al-Qarni disebutkan, para sahabat tak merasa asing dengan tangis Rasulullah. Mereka sering menyaksikan dia di atas mimbar dengan mata yang basah, terisak hingga dadanya bergetar. 

Seisi masjid ikut larut dalam tangis. Mereka bukan sebatas ikut-ikutan menitikkan air mata, tapi merenungkan apa yang disampaikan seorang manusia mulia dari atas mimbar. Tangis pun membahana tatkala Rasulullah memanjatkan doa serta ditinggalkan orang-orang yang disayanginya, termasuk derita yang dialami para sahabat. 

Ibnu Umar menceritakan, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abu Waqash, dan Abdullah bin Mas'ud mendampingi Muhammad menjenguk Sa'ad bin Ubadah yang terbaring sakit. Bertepatan dengan kedatangan mereka, si sakit dalam kondisi pingsan. Tak tahan melihat Sa'ad dalam sakit seperti itu, pemimpin umat itu menangis. Demikian pula dengan para sahabat. 

Buku Rasulullah Manusia Tanpa Cela yang mengutip kisah Ibnu Umar itu menguraikan, di sela tangisnya beliau berujar, "Allah tidak menyiksa karena air mata atau kesedihan hati, tetapi akan menyiksa karena ini," ujarnya sambil menunjuk pada lisannya. Ia menambahkan, meratapi kematian orang juga tak diperbolehkan.  

Bukan tangis semata, tawa dan canda merupakan bagian dari kehidupan Muhammad. Namun, tawa dan candanya tak berlebihan. Caranya bercanda berada di antara cara bergurau orang yang perilakunya kaku dan wajahnya cemberut dan orang yang sering tertawa dan bergurau secara berlebihan. Dalam berbagai kesempatan, Muhammad tertawa hingga gigi gerahamnya tampak tapi tak larut dalam tawanya itu. 

Sehingga, walau sedang tertawa tubuh Muhammad tak berguncang atau kerongkongannya tak sampai kelihatan. Tak heran bila ia mengatakan, "Takutlah kamu kalau banyak tertawa karena bisa mematikan hati." 

Canda yang disampaikan merupakan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan. Seorang sahabat meminta Rasul membawanya ke atas unta. 

Pernyataan itu direspons Rasulullah. "Tak ada jatah tunggangan bagimu kecuali seekor anak unta." Jawaban itu membuat sahabat itu memutuskan segera berlalu. Muhammad pun memanggil sahabatnya itu dan memberikan penjelasan, semua unta pasti mulanya adalah anak unta.

Sumber : Dialog Jumat Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA