Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

MUI Respons Kebutuhan Difabel

Senin 22 Apr 2019 21:00 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko

Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumut kembali menggelar pengajian atau tadarus Alquran di kantor DPD Pertuni Sumut, Jl Sampul, Medan. Para peserta tadarus yang terdiri dari remaja hingga orang tua bergantian membaca Alquran dengan huruf braille.

Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumut kembali menggelar pengajian atau tadarus Alquran di kantor DPD Pertuni Sumut, Jl Sampul, Medan. Para peserta tadarus yang terdiri dari remaja hingga orang tua bergantian membaca Alquran dengan huruf braille.

Foto: Republika/Issha Harruma
MUI menyebut agama memang perlu menyentuh kalangan difabel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat, Prof Hasanud din AF mengatakan, MUI memang belum pernah melakukan kajian Fikih Disabilitas karena tidak ada permintaan dari difabel untuk membahasnya.

"Tapi, kalau ada permintaan dari masyarakat itu akan direspons oleh MUI, Komisi Fatwa. Namun, selama ini belum ada permintaan itu," ujar Hasanuddin.

Fatwa yang dikeluarkan MUI selama ini memang merupakan permintaan dari kalangan masyarakat. Kendati demikian, Komisi Fatwa MUI juga responsif terhadap masalah keagamaan yang dihadapi umat Islam.

Terlepas dari itu, Hasanuddin memandang Fikih Disabilitas sangat penting untuk disosialisasikan kepada kaum difabel yang menganut agama Islam. Apalagi, kaum difabel masih banyak yang menghadapi masalah-masalah hukum Islam.

"Perlu kalau terkait dengan masalah hukum fikih, ada hal-hal tertentu yang memang menjadi masalah kaum disabilitas. Saya kira jelas perlu penjelasan bagaimana hukumnya," kata Hasanuddin.

Menurut dia, agama memang perlu menyentuh kalangan difabel. Karena itu, para ulama harus berupaya mengajarkan ilmu agama kepada kaum difabel, termasuk melalui Komisi Dakwah MUI.

"Perlulah disosialisasikan kalau memang sudah ada fikih-fikih atau aturan hukum Islam terkait dengan ka um difabel. Saya kira, para dai dan para mubalig bisa menyosialisasikannya,"kata Hasanuddin.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA