Senin 22 Apr 2019 17:14 WIB

Sadranan Boyolali, Ajang Silaturahim dan Muliakan Ramadhan

Tradisi Sadranan di Boyolali semarak layaknya Idul Fitri.

Ilustrasi Ramadhan
Foto: Reuters/Amr Abdallah Dalsh
Ilustrasi Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI – Masyarakat Lereng Gunung Merapi mengikuti upacara tradisi Sadranan yang digelar setiap tahun bulan Ruwah (menurut kalender Jawa) sebagai ajang silaturahim, di kawasan Pemakaman Dukuh Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Senin (22/4).

Ribuan orang masyarakat dengan membawa "tenong" atau tempat makanan berdatangan di tempat pemakaman leluhurnya di Desa Sukabumi untuk mendoakan dan menjadi ajang berkumpulnya sanak-saudara, teman, dan para tetangga untuk melestarikan tradisi silaturahim agar hubungan mereka tetap rukun.

Baca Juga

KH Maskuri, selaku sesepuh Desa Sukobumi mengatakan upacara tradisi Sadranan di Dukuh Tunggulsari Desa Sukabumi Kabupaten Boyolali Jawa Tengah sudah dilakukan sejak 1462 hingga sekarang tetap dilestarikan masyarakat setempat.

Upacara tradisi sadranan tersebut sebagai pengetrapan dari Sabda Nabi Dawud yang menyebutkan, apabila orang tua atau leluhurnya meninggal dunia wajib didoakan, memintakan ampun, menempati janji orang tua yang belum tercapai, dan bersilaturahim apa yang dilakukan oleh orang tua zaman dahulu. Dan, memuliakan para teman-teman orang tua dan tamu yang datang.

Menurut Maskuri ajaran tersebut kemudian diterapkan salah satu anggota Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga yang mengutus para santrinya untuk menyebarkan hal itu, datang ke daerah ini.

Pada acara tradisi sadranan diambil waktunya pada pertengahan Ruwah menurut kalender Jawa yang dilakukan serentak untuk Desa Sukabumi, Mliwis, Genting, dan Cepogo Kabupaten Boyolali. Masyarakat yang sedang merantau ke daerah lain diberitahu untuk mudik mengikuti upacara tradisi ini.

"Masyarakat atau sanak keluarga, tetangga banyak yang mudik ke desa untuk mendoakan para leluhurnya yang sudah mendahuluinya. Mereka pulang juga sebagai ajang silaturahim antarkeluarga sanak-saudara tetangga dan teman. Dan, Hal ini bisa menjaga kerukunan masyarakat setempat," kata Maskuri.

Masyarakat saat datang ke makam para leluhurnya, mereka dengan membawa tenong atau tempat makanan khas daerah dari anyaman bambu atau aluminium. Mereka membawa makanan atau kue khas desa setempat untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir di pemakaman.

"Tenong menjadi ciri khas tradisi sadranan yang berbentuk lingkaran, artinya menggambarkan masyarakat agar saling bersaudara dan menjaga kerukunan di lingkungannya," katanya.

photo
Hidangan saat Ramadhan (ilustrasi)

Menurut dia, dengan tradisi sadranan ini, bisa merukunkan kembali, misalnya setelah mereka dalam pemilu berbeda pilihan, tetapi akan guyub rukun kembali siapapun pemimpinnya.

Prosesi tradisi sadranan diawali dengan sedakah di rumah masing-masing, dan sering disebuat "punggahan" atau menaikkan leluhur, kemudian diteruskan acara istighatsah yang digelar di kawasan pemakaman desa, pada Ahad (21/4) malam. Pada Senin pagi, masyarakat melukan "bubak" atau membersihkan areal pemakaman.

Masyarakat kemudian pulang dengan membawa tenong berisi makanan pergi ke kawasan makam leluhurnya untuk melakukan doa bersama memintakan ampun para leluhurnya. Setelah selesai doa bersama mereka baru membuka tenong makanan untuk dibagikan bersama masyarakat yang hadir.

Masyarakat Desa Sukabumi setelah selesai acara doa bersama kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk melakukan silaturahim ke sanak saudara, teman, dan para tetangganya. Mereka saling bermaaf-maafan seperti saat perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Setiap warga pada acara silaturahim dengan menyediakan segala makanan khas dan hidangan yang mewah untuk para taimmu yang berkunjung di rumahnya. Mereka meyakini jika banyak tamu yang berkunjung dan menyantap hidangan yang disuguhkan akan mendapatkan imbalan rezeki yang melimpah dari Allah SWT. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement