Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

Siapa Manusia Terbaik?

Jumat 19 Apr 2019 16:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca
Ada syarat untuk menjadi manusia terbaik

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pentingnya sumbangsih para ilmuwan pada peradaban manusia tak bisa dimungkiri. Sebenarnya, Islam pun mengajarkan, salah satu syarat untuk menjadi manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Manusia itu pun dicintai oleh Allah SWT.

Sesuai dengan apa yang diriwayatkan Imam Thabrani dari Jabir RA: "Rasulullah SAW bersabda, 'Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.'"

Kebermanfaatan tersebut pun bisa dalam beragam bentuk dari ilmu, harta, hingga tenaga.  Bicara tentang ilmu bisa diibaratkan sebagai cahaya. Pelitanya bisa menerangi peradaban manusia. Temuan tentang teori cahaya membebaskan manusia dari belenggu keyakinan sesat bahwa cahaya bersinar dari mata. Tidak terbayang jika al-Haytham dan Newton tak pernah menemukan teori tentang optik. Kacamata, lensa, dan kamera tidak akan pernah ada.

Ilmu yang bermanfaat  pun abadi bersama dengan penemunya. Menyingkirkan teori-teori dulu yang batil (salah). Maka, Mahabenar Allah SWT yang telah memisahkan air dengan buihnya seperti logam dengan percikannya. Allah SWT memisahkan mereka layaknya yang benar dan batil, memisahkan antara pemberi manfaat dan yang tidak berharga.

"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan" (QS ar- Rad [13]: 17).

Ilmu yang bermanfaat juga ternyata tak hanya memberi manfaat kepada orang lain. Ilmu itu akan berbalik menjadi investasi bagi para ahlinya selepas kematian. Bukan hanya namanya yang tetap berada di bumi, ilmunya akan menolong dia saat menghuni alam baka. Sesuai apa yang dipesankan Rasulullah SAW, ilmu bermanfaat adalah satu dari tiga pahala yang akan tetap mengalir selepas mati. Wallahualam.

Sumber : Dialog Jumat Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA