Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Para Pendeta Belanda Belajar Kerukunan Beragama ke Sulteng

Ahad 14 Apr 2019 20:23 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

Foto: Republika/Mardiah
Para pendeta Protestan Belanda mendalami potret toleransi beragama Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU— Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah mengenalkan kehidupan kerukunan antaragama di provinsi itu kepada pimpinan agama Protestant Netherlands, Belanda.

Baca Juga

Pengenalan kerukunan antaragama disampaikan Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof Zainal Abidin kepada Sekretaris Jenderal Protestant Church in the Netherlands Pendeta Dr R De Reuver di Palu Sabtu (13/4).

Kepada Sekretaris Jenderal Protestant Church in the Netherlands Pendeta Reuver, Zainal menjelaskankan banyak hal yang berkaitan dengan harmonisasi kehidupan umat beragama di Indonesia.

"Kita manusia ini jika di ibaratkan hanyalah murid di hadapan Tuhan, karena itu murid tidak boleh saling mengisi rapor. Kita umat beragama hanyaklah hamba-nya dan sesama hamba tidak boleh saling menyalahkan, tidak boleh saling menilai karena hanya Tuhan pemilik kebenaran sejati," kata Zainal. 

Rektor Pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu itu menyatakan, pemahaman beragama umat Islam di Indonesia jauh lebih baik bila dibanding keagamaan umat Islam di negara lain.

Hal ini karena umat beragama di Indonesia jauh lebih toleran bila dibanding yang lain. Dalam sejarah perkembangan agama di Indonesia, terbukti tidak ditemukan konflik di Indonesia berlatar agama atau disebabkan perbedaan beragama, tetapi lebih hanyak menjadikan isu agama sebagai alat propaganda atau agama dibawa-bawa dalam suatu konflik agar lebih menarik bagi orang-orang tertentu.

"Karena agama dicatut oknum tertentu untuk kepentingan sesaat, kepentingan politik dan sebagainya. Inilah yang kemudian memunculkan seakan-akan ada pertarungan antara umat Islam penganut agama lain," ujar Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu.

Pendeta Reuver mengemukakan bahwa saat terjadi kasus Ahok di Indonesia, ada anggapan di Belanda bahwa umat minoritas di Indonesia ditindas oleh umat mayoritas (Islam).

Namun, menurut Pendeta Reuver, ternyata mereka salah menilai, bahwa kasus Ahok tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan beragama di Indonesia dan bahkan tidak menciderai kerukunan umat beragama yang sudah dbangun selama ini.

Karena itu, Pendeta Reuver menyadari bahwa mereka di Belanda sangat minim melakukan analisis dan kajian terhadap konteks beragama di Indonesia.

Sebaliknya, kata Reuver justru dalam keberagamaan Indonesia mampu hidup bersama. Umat beragama di Indonesia sering berdiskusi bersama dan berdoa bersama untuk keselamatan umat dan bangsa ini.

Untuk itu, Pendeta Reuver berjanji akan menjelaskan hal ini kepada pemerintah Belanda dan warga nor-Muslim di negaranya.

Pendeta Reuve dan Miss Corrie juga menanyakan tentang pandangan agama dalam menyikapi bencana di Indonesia. Seperti yang terjadi di Palu pada 28 September 2018 lalu. Hal ini karena di negaranya jika terjadi bencana seakan-akan karena adanya kemarahan Tuhan kepada manusia sehingga Tuhan berada pada posisi yang dipersalahkan, ini sulit diterima secara akal.

Menanggapi pertanyaan soal bencana, Sekreatris FKUB Sulteng Muhtadin Dg Mustafa menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, bencana-bencana itu terjadi tidak selamanya disebabkan oleh kemarahan Tuhan, tetapi lebih pada ulah manusia yang secara terus menerus mengekploitasi alam hingga di luar batas kewajaran seperti menebang pohon sembarangan dan menguras isi bumi hingga rusak lingkungannya.

Alam menjadi tidak stabil sehingga bencanapun tidak bisa dihindari. Selain itu, bencana atau musibah dipandang sebagai peringatan Tuhan kepada hamba-Nya agar manusa tidak lupa diri dan mempertuhankan akalnya. Manusia harus menyadari bahwa ia ditugaskan ke bumi dengan mengemban misi untuk menjaga dan memakmurkan bumi ini, bukan sebaliknya.

Sekretaris Jendaeral Protestant Church in the Netherlands Pendeta Dr R De Reuver, didampingi bersama Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia Donggala silaturahim kepada Pengurus FKUB Sulteng dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sabtu (13/4).

Pendeta Dr R De Reuver didampingi Miss Corrie Van Der Vea, Pendeta Dr A Z Ronderoum, Uhut Hutapea, Pendeta Erasmue. Mereka di terima oleh Ketua FKUB Sulteng Prof Dr H Zainal Abidin MAg, Sekretaris FKUB Sulteng Dr H Muhtadin Dg Mustafa, I Ketut Suasana, Wakil Sekretaris FKUB, Agustinus Motoh, Anggota FKUB. Dari pihak MUI Palu yakni Munif Godal, Sekretaris MUI, Ulumuddin, Anggota MUI Palu, Yunus, Anggota MUI Palu.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA