Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Di Tengah Keterbatasan, Dai di Pedalaman Gigih dalam Dakwah

Jumat 15 Mar 2019 04:25 WIB

Red: Agung Sasongko

Dakwah

Dakwah

Foto: Dok. Republika
berdakwah di medan pedalaman membutuhkan talenta khusus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lembaga filantropi Dompet Dhuafa (DD) menilai program mubaligh dan mubaligah nasional tidak boleh menghambat gerakan dakwah di Indonesia, terutama pedalaman.

“Kalau saya, melakukan program itu bagus saja, tapi tak boleh menghambat gerakan dakwah yang dilakukan dai,” kata Direktur Dakwah dan Layanan Masyarakat Dompet Dhuafa Ustaz Ahmad Sonhaji kepada Republika.co.id, Kamis (14/3).

Baca Juga

Dia memandang program mubaligh dan mubaligah nasional bagus untuk memberikan standarisasi pendakwah. Namun, dia mewanti-wanti jangan sampai program itu justru menghambat peran dai yang belum memiliki sertifikasi.

Menurut dia sertifikasi seorang dai tidak hanya dengan mengikuti program itu. Sebab, jika hanya berpatokan dengan program tersebut, maka jumlah dai akan terbatas.

”Peran dakwah adalah setiap Muslim adalah dai. Kita ada kewajiban menyampaikan kebaikan sepanjang sesuai nilai yang diajarkan Rasulullah SAW,” ujar Ustaz Sonhaji.

Terkait masih terbatasnya jumlah dai di daerah, Ustaz Sonhaji memandang aksi lebih penting dan utama daripada standarisasi. Sebab, apabila menunggu sertifikasi kemudian pemerataan, maka dakwah di daerah tidak akan berjalan.

“Lakukan (dakwah) dulu, bergerak dulu. Makanya perlu bersinergi dengan lembaga dakwah di daerah,” kata dia.

Ustaz Sonhaji mengatakan satu lembaga dakwah tak mungkin sanggup melakukan peran berdakwah sendirian. Karena itu, sinergi menjadi hal penting.

“Turun dulu ke lapangan. Di medan pedalaman, tak semua dai sanggup turun, apakah yang tersertifikasi bisa,” ujar dia.

Ustaz Sonhaji mengatakan berdakwah di medan pedalaman membutuhkan talenta khusus. Karena itu dia mempertanyakan ihwal apakah dai tersertifkasi sanggup ditempatkan di pedalaman?

“Dai kita di pedalaman itu canggih, gigih, dan hebat, tanpa sertifikasi. Dengan kemampuan yang terbatas pun, mereka berjuang,” kata dia.

Karena itu, apabila program sertifikasi mubaligh menjadi wajib, tentu merepotkan. Sebab, sejatinya semua Muslim adalah dai sesuai kapasitas dan keampuan tergantung panggung, medan, dan siapa audiensinya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA