Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Muslimat NU Diimbau Tangkal Hoaks dan Ujaran Kebencian

Ahad 10 Mar 2019 17:22 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Hasanul Rizqa

logo muslimat nu

logo muslimat nu

Foto: tangkapan layar youtube
Hoaks dinilai telah tersebar tidak hanya di perkotaan, tetapi juga perdesaan.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan seluruh simpatisan dan pengurus Muslimat NU untuk menangkal hoaks dan ujaran kebencian. Menurut dia, dua fenonema itu semakin marak beredar di tengah masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan.

Baca Juga

"Ada hal yang patut diwaspadai, meluasnya hoaks dan ujaran kebencian. Contohnya ada ibu-ibu di Jabar (Jawa Barat) dari rumah ke rumah menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian. Yang seperti ini tidak hanya di kota dan ini mengganggu integrasi bangsa," kata Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-73 Muslimat NU di Desa Gempol, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Ahad (10/3).

Salah satu upaya dalam upaya menangkal hoaks dan ujaran kebencian adalah meningkatkan sinergi antar-kelembagaan. Hal itu seperti dilakukannya nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dan PP Muslimat NU.

Dalam kegiatan tersebut, juga dilakukan pembacaan ikrar "Deklarasi Anti Hoaks, Fitnah dan Ghibah" oleh PC Muslimat NU Kabupaten Nganjuk.

Khofifah mengapresiasi kegiatan ini sebagai forum pertama yang diselenggarakan Muslimat NU ketika dirinya menjadi gubernur Jawa Timur. Di sisi lain, kegiatan yang sama juga menjadi bentuk kepedulian dari Kemenkominfo terhadap maraknya peredaran hoaks dan ujaran kebencian, terutama di lingkungan perdesaan.

Di tempat yang sama, Menkominfo Rudiantara mengungkapkan, peredaran hoaks atau konten negatif bisa dalam berbagai jenisnya, seperti berita palsu, fitnah dan ghibah. Tak hanya itu, ada pula konten-konten negatif yang cenderung berpotensi mengadu domba.

"Banyak di media sosial yang mengandung konten negatif. Namanya media sosial, seperti pisau yang bisa memotong sayur sebagai hal positif. Juga bisa menjadi hal negatif seperti menyakiti orang lain dengan hoaks, fitnah atau ghibah," ujar Menteri Rudiantata.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menangkal konten negatif. Misalnya, dengan mengecek sumber informasi secara terperinci. Selain itu dicek pula konten serta konteks tempat dan waktu dari ujaran yang ditampilkan. Hal itu untuk memastikan kebenarannya.

Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Nganjuk Sri Minarni Ahmad Muhaimin meminta agar Muslimat NU Kabupaten Nganjuk jangan berpangku tangan. Dia meminta, Muslimat NU Nganjuk bersinergi dengan pemerintah dalam meningkatkan kemajuan masyarakat.

"Seperti narkoba, harus diberantas bersama-sama dengan Muslimat NU agar Nganjuk bebas dari narkoba," kata Sri Minarni.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA