Rabu 30 Jan 2019 00:37 WIB

Tiga 'Mantra' Menag Dibeberkan di Raker Kepala Madrasah Aceh

Moderasi beragama, kebersamaan, dan urgensi integrasi data adalah modal berprestasi.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan pada acara Peluncuran Seleksi Prestasi Akademik Nasional dan Ujian Masuk Perguruaan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Tahun 2019 (SPAN-UM PTKIN 2019) di Jakarta, Rabu (23/1).
Foto: Republika/Prayogi
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan pada acara Peluncuran Seleksi Prestasi Akademik Nasional dan Ujian Masuk Perguruaan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Tahun 2019 (SPAN-UM PTKIN 2019) di Jakarta, Rabu (23/1).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH— Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Aceh menyampaikan tiga mantra Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, yakni urgensi moderasi beragama, kebersamaan, dan urgensi integrasi data.

"Menyampaikan pesan moderasi beragama, bukan moderasi agama. Karena agama sudah sempurna, tapi cara mengamalkannya jangan sampai terjebak dalam perilaku berlebihan," jelas Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Daud Pakeh di Aceh Timur, Selasa (29/1).

Pesan Menag tersebut disampaikannya dalam rapat kerja kepala madrasah se-Aceh Timur selama dua hari yang diikuti 109 peserta, terdiri dari raudhatul atfhal 10 orang, ibtidaiyah 49 orang, madrasah tsanawiyah 31, dan aliyah 18 orang.

Ia melanjutkan, moderasi beragama adalah sesuai esensi dari agama itu sendiri, yakni moderat. Melalui moderasi beragama, umat tidak tergelincir terhadap pemahaman keagamaan yang ekstrem kiri atau ekstrem kanan.

Ia mengatakan, mantra kedua yakni pentingnya kebersamaan. Kebersamaan dewasa ini semakin diperlukan karena terdapat perbedaan yang sudah semakin muncul ke permukaan. 

Terakhir, integrasi data menjadi sesuatu hal yang mutlak dan sangat penting. Tinggal bagaimana cara untuk mengintegrasikan, sehingga pendayagunaan dari data-data yang besar dan banyak itu bisa lebih maksimal dan optimal.

Ia mengingatkan, kepala dan guru madrasah untuk menyampaikan pesan moderat atau wasathiyah ketika mengajar pendidikan agama, dan tidak ekstrem atau berlebihan.

Daud berharap rapat kerja ini menjadi role model atau panutan bagi Kemenag kabupaten/kota di Aceh, sebagai tekad dalam mewujudkan madrasah hebat bermartabat.

"Output (hasil) dari kegiatan ini menjadi ajang silaturrahim, dan sharing (berbagi) antar kepala madrasah untuk mewujudkan suatu program yang akan dilaksanakan berdasarkan hasil dari rumusan bersama," jelasnya.

Ketua Panitia Raker Kepala Madrasah se-Aceh Timur, Mulkan Sidamanik, SSos, MA, mengatakan kegiatan diadakan bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan madrasah di wilayah Aceh Timur.

"Ini kita adakan sebagai salah satu upaya dalam melahirkan program-program unggulan di setiap madrasah. Untuk menyikapi, dan mencari solusi permasalahan yang ada, dan sebagai persiapan ujian akhir madrasah," terangnya.

Menag Lukman Hakim Saifuddin pekan lalu saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) telah menginstruksikan kepada pejabat Kemenag yang menjadi peserta kegiatan ini agar selalu berpegang pada tiga mantra. 

"Secara khusus tadi saya berpesan kepada seluruh peserta Rakernas untuk betul-betul memegangi tiga mantra yang harus menjadi ruh kita di Kemenag," ujar Lukman. 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement