Senin, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019

Senin, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019

Beda Zaman Beda Tantangan Dakwah

Jumat 02 Nov 2018 17:24 WIB

Red: Agung Sasongko

Ustaz Erick Yusuf

Ustaz Erick Yusuf

Foto: istimewa
Perbedaanya di permasalahan kemasan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Hari Sumpah Pemuda baru saja kita peringati. Aura dan sema ngat persatuan kaum muda pada 28 Oktober 1908 masih bisa kita rasakan. Meski berbeda zaman, peran kaum muda, terutama pemuda Muslim bagi bangsa ini menjadi satu keniscayaan.

Pada era milenial sekarang, dakwah mereka tentu dibutuhkan. Wartawan Republika, Rahmat Fajar mewawancarai Pengasuh Pesantren Kreativ iHAQi, Ustaz Erick Yusuf, tentang peran pemuda Muslim di era sekarang. Berikut petikan wawancaranya:

Perbedaan tantangan yang dihadapi pemuda Muslim dulu dengan sekarang?

Kalau sebetulnya, secara universal tantangannya sama saja.

Permasalahanpermasalahannya, tapi perbedaannya di permasalahan zaman itu kemasan. Di zaman teknologinya inilah sebetulnya kalau zaman dulu yang namanya pemuda itu godaannya sudah ada, tapi tidak sehebat sekarang karena teknologinya sekarang menyebar luas.

Jadi, kalau misalnya zaman dulu ada orang-orang yang suka minum khamr dan lain-lain, tapi orang yang lainnya tidak terlalu tahu. Kalau sekarang, dengan adanya sosmed orang menyangka bisa menginterpretasikan, oh ini kayak-nya asyik, pengen coba.

Jadi, seakan-akan kemaksiatan dibuka sebesar-besarnya, seluasluasnya kesempatan yang selebarlebarnya dengan mudah kita mendapatkanya. Sekarang apa sih yang sulit, mau dapat apa pun mudah karena kita bisa mengakses bahkan kalau zaman dulu yang namanya PSK ada lokalisasinya sekarang online semua nya. Jadi, artinya kalau kita lihat setiap masa punya tantangannya sendiri.

Zaman old punya tantangannya sendiri, zaman sekarang pu nya tantangannya sendiri. Jadi, tentu perbedaannya di permasalahan kemasan. Kemasan kita me rasa bahwa zaman dulu itu sudah sema kin modern, padahal zaman sekarang lebih modern lagi, zaman depan jauh lebih modern. Intinya di kemasannya se makin terbukanya se akan-akan kemaksiatan sekarang sema kin dekat dengan kita karena teknologi yang sangat mendukung.

Bagaimana Anda melihat kontribusi pemuda Muslim di era sekarang?

Otomatis seperti pisau. Pisau itu bisa dipakai dua hal, ketika dia tajam bisa menjadi manfaat bisa juga menjadi madharat. Makanya kita lihat betapa misalnya kerusakan zaman sekarang disebabkan apa oh disebabkan teknologi, tapi dengan hukum kausal tadi ini bisa dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat untuk menggunakan itu untuk dakwah.

Makanya, gini saya orang yang tidak setuju orang-orang saleh meninggalkan sosmed. Kenapa? Karena kalau orang-orang saleh meninggalkan sosmed, sosmed itu hanya akan digunakan untuk kemaksiatan. Makanya, kita bersama sama harus menggunakan sosmed itu untuk kemudian memang sesuatu yang bermanfaat.

Jadi, mengantisipasinya adalah dengan aktif melihat apa-apa yang menjadi faslitas keburukan kita ubah fasilitas kebaikan. Tadinya na manya PSK online sekarang jadi dakwah online, bikin dakwah ke mana-mana.

Bagaimana dengan kontribusi ormas kepemudaan Muslim?

Sekarang alhamdulilah pemudapemuda Muslim sudah masuk ghirah dakwah. Kalau dulu, orang-orang masih sibuk dengan dirinya sendiri. Kalau seka rang, justru saya lihat berjamaah, sedikitsedikit ada komunitas shalat subuh berjamaah, kasih makan pagi, dhuha, jadi semuanya berjamaah. Ini sebetulnya secara ghirah bagus kita berlatih untuk berjamaah. Karena berjamaah kan sulit harus berlatih, jadi kontribusi pemuda Muslim sekarang adalah dengan berjamaah, tapi ingat yang namanya pemuda jangan terlalu semangat dan terlalu memaksakan dakwah.

Dakwah itu harus dipahami ada prosesnya ada spektrumnya, gak bisa semua diseragamkan. Jadi, tentu kita harus di dalam dakwah ada seni dakwahya. Dia harus lentur. Seka rang saya lihat komunitas-komunitas kadang-kadang ada yang galak yang memaksakan. Ketika dia galak, memaksakan kehendak artinya orang justru jadi antipati. Jadi, ketika kita mau dakwah di kalangan olahragawan, berdakwalah dengan orang yang paham olahraga.

Saya lihat komunitas pemuda itu hanya perlu lebih bersabar dalam berdakwah. Berja maahnya sudah bagus, tapi harus sabar, bikin sesuatu yang kreatif jangan memi sahkan ini Islam ini bukan, jangan begitu, tapi justru semuanya harus mementingkan nilai-nilai Islaminya.

Bagaimana agar ormas-ormas kepemudaan bisa bersinergi?

Harus belajar berjamaah jadi sinergi itu penting. Yang namanya secara fitrah manusia itu kalau bertemu seperti pa suk an bertemu dengan pasukan yang lain nya. Jadi, ada curiga, gak nyaman. Ma ka nya, harus ta'aruf. Kalau ta'aruf bisa ke nal bisa memahami makanya sering bi kin acara sama-sama.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA