Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Menjadi Generasi Tangguh

Jumat 02 Nov 2018 17:00 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Agung Sasongko

Pemuda Muslim keturunan Afrika sedang membaca Alquran di kereta Uptown 6 di Manhattan, New York.

Pemuda Muslim keturunan Afrika sedang membaca Alquran di kereta Uptown 6 di Manhattan, New York.

Foto: the guardian
Perkuat generasi muda ini baik secara intelektual, moral, dan akhlak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selain kaum muda perkotaan, santri juga sudah menghadapi tren milenial. Sekre taris Rabithah Ma'had al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU), Habib Soleh, mengatakan, tidak mudah mengubah perspektif pondok tentang zaman digital.

Dia menjelaskan, ada pesantren yang menganggap kemajuan teknologi sebagai ancaman begitu sebaliknya ada yang menilai sebagai peluang. Bagi mereka yang menganggap kemajuan sebagai peluang, santri dapat mengembangkan ilmunya yang diajarkan un tuk pengembangan pesantren dan dirinya. Dia bisa belajar bahasa hingga teknologi pada langkah awal.

Kendati demikian, pesantren yang menganggap kemajuan sebagai ancaman bukan berarti mereka anti terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dia, pesantren tersebut hanya membuat aturan lebih ketat untuk memfilter arus informasi.

"Hanya internet oleh tingkat ustaz dan mereka memfilter dari dunia teknologi kemudian disampaikan," ujarnya.

Habib menyampaikan, program kepemudaan untuk pesan tren di bawah naungan RMI mayoritas menggunakan sarana dan prasaran modern. Hal tersebut digunakan untuk mendukung ber kembangnya proses pendidik an di pesantren.

Oleh karena itu, Habib menegaskan, santri saat ini harus memberikan informasi terhadap memodifikasi terhadap sistem pendidikan lengkap dengan sarana teknologinya. Pesantren juga dinilai harus memperbanyak program kreativitas dan pembelajaran ilmu teknologi.

Cendekiawan Muslim Irfan Syauqi Beik mengatakan, bonus demografi akan menjadi manfaat besar bagi Indonesia pada masa depan jika dimanfaatkan membentuk generasi tangguh. Selain itu, bonus tersebut juga dijadikan kesempatan membentuk sumber daya manusia berkualitas.

Oleh sebab itu, bonus manusia membuat pihak asing ketakutan apa bila Indonesia berhasil memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh. Upaya pelemahan mentalitas kepada generasi muda kini telah terlihat.

"Oleh karena itu, kita harus memperkuat generasi muda ini baik secara intelektual dan moral, akhlak," kata Irfan.

Irfan menambangkan, generasi muda juga harus diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitasnya. Berbagai fasilitas pendukung pun harus disediakan untuk menumbuhkan semangat generasi sekarang.

Berbagai elemen umat Islam harus terlibat aktif dalam memanfaat bonus demografi ini. Di antara yang bisa dilakukan adalah pembinaan, edukasi, dan penguatan syahsiyah. Pola pembinaan juga harus kreatif yang disesuaikan dengan kondisi sekarang.

"Jadi, saya kira semua ormas harus kompak dan menjadikan masjid pusat pengaderan," kata Irfan menegaskan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA