Rabu 05 Sep 2018 22:27 WIB

Kiai Maruf Amin Silaturahim ke PP Muhammadiyah, Bahas Apa?

Setidaknya ada tiga hal yang dibahas, utamanya terkiat substansi kebangsaan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir menerima Bakal Calom Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (5/9).
Foto: Republika/Prayogi
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir menerima Bakal Calom Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (5/9).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir menerima silaturrahim Bakal Calon Presiden, KH Ma'ruf Amin di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/9) malam. Pertemuan tersebut dihadiri juga sejumlah pimpinan Muhammadiyah.

"Sebagaimana diketahui tadi Pak Kiai silaturrahim ke PP Muhammadiyah dan kita dengan senang hati menerima  silaturrahim beliau. Dan sebenarnya kami sudah sering bersilaturrahim dan sering berkunjung. Apalagi, di MUI kan satu bagian bersama," ujar Haedar usai menerima kunjungan KH Ma'ruf.

Haeder mengatakan, dalam pertemuan tersebut, setidaknya ada tiga hal yang dibahas, khsususnya yang terkait dengan hal substansi kebangsaan. "Tadi kita ngobrol santai sebenarnya. Tetapi hal-hal yang substansi tentang bangsa. Yang pertama tadi kita bicara bahwa bangsa ini perlu maju, perlu kuat, satu di antaranya adalah membangun karakter," ucap Haedar.

Dia melanjutkan, karakter yang dimaksud itu adalah karakter yang berbasis pada agama dan pancasila, serta nilai luhur bangsa. Karena itu, kata dia, majunya KH Ma'rur sebagai Cawapres diharapkan dapat berjuang di jalur struktural untuk membangub karakter tersebut.

"Ketika kiai sekarang memulai untuk dalam proses politik jadi cawapres, kita berharap bahwa perjuangan struktural itu bisa menjadikan umat dan bangsa ini, umat dan bangsa yang religius tapi berkemajuan," katanya.

Selain itu, menurut dia, PP Muhammadiyah dan KH Ma'ruf juga membahas problem bangsa dari segi ekonomi. Karena, kata dia, mayoritas rakyat dan umat Islam di Indonesia sampai saat ini masih perlu diberdayakan.

"Nah, di sini juga ada titik temu di mana dulu Muhammadiyah temasuk juga yang bersuara terus soal kesenjangan sosial. Nah Pak Kiai juga sekarang membawa arus baru ekonomi umat dan ekonomi Indonesia," jelasnya.

"Tentu perjuangan politik Pak kiai itu, untuk bagaimana lewat negara bisa menghasilkan ekonomi baru berkeadilan sosial," imbuhnya.

Hal terakhir yang dibahas adalah tentang problem kemanusian yang mana menjadi ranah seluruh komponen bangsa. Menurut Haedar, baik Muhammadiyah ataupun NU telah menjadi bagian utuh dalam kehidupan kebangsaan.

"Dan mayoritas semuanya berbangsa dalam koridor kalau dalam bahasa kami negara Pancasila Darul Ahdi wa Syahadah. Dan kalau bahasa kiai tadi menyebut Darul Mitsaq, negara kesepakatan," kata Haedar.

Dari istilah itu, tambah dia, ada titik temu juga bagaimana agar dalam kehidupan berbangsa ini tidak ada lagi konflik ideologi. Menurut dia, Muhammadiyah dengan prinsip Darul Ahdi itu, juga berharap agar seluruh komponen bangsa, bukan hanya bersetuju tapi juga bisa maju bersama.

"Jadi itulah tiga hal yang kita didiskusikan sambil santai," tutupnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement