Rabu 05 Sep 2018 06:06 WIB

Tito Karnavian: Saya Bingung Kadang Dipersepsikan Anti-Islam

Sejak menjabat Kapolda Metro Jaya, Tito telah dekat dengan tokoh Islam.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan paparan saat wawancara di kediamannya, Jalan Patimura, Jakarta, Selasa (28/8).
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan paparan saat wawancara di kediamannya, Jalan Patimura, Jakarta, Selasa (28/8).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Arif Satrio Nugroho

Pada Selasa (28/8), Republika berkesempatan untuk berbincang dengan Kapolri Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian di rumah dinasnya, Jalan Pattimura 37, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Perbincangan itu dilaksanakan di ruangannya yang cukup luas.

Melihat jumlah kursi yang tersedia, ruangan itu mampu menyediakan tempat duduk untuk lebih dari sepuluh orang. Pada salah satu dinding ruangan di rumah dinas pimpinan tertinggi Korps Bhayangkara itu tampak sebuah hiasan ornamen bertuliskan surat Yasin di dinding.

Ornamen tersebut tampak besar, sekitar 2 x 3 meter persegi. Kaligrafi ayat Alquran yang tertulis di papan ornamen tersebut berwarna emas menyala dan dicetak timbul.

Pernyataan dan jawaban dan terlontar dari mulut Tito selama beberapa menit dalam kondisi ruangan yang cukup sunyi. Namun, kesunyian pecah saat alunan ayat Alquran, surat Yasin terdengar dari pengeras suara. Bila didengarkan, tampaknya ada pengajian yang dilakukan tepat di sebelah ruangan.

Dalam satu kesempatan, Républika bertanya pada Tito terkait kesediaannya untuk menjadi salah satu tokoh inspirator pemberantasan radikalisme. Mengingat, Tito adalah tokoh yang dikenal memiliki kiprah besar dalam memberantas terorisme di Tanah Air. Namun, Tito menolak.

"Saya bilang, Saya jalan sendiri. Nanti dikira Saya dipersepsikan anti anulah, Saya juga bingung kadang dipersepsikan mohon maaf anti-Islam," kata Tito.

Tito kemudian menyampaikan sedikit 'kebingungannya' atas cap anti-Islam yang diperolehnya. Pasalnya, sewaktu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, Tito dikenal 'dekat',  bahkan dengan tokoh selevel Habib Rizieq Shihab.

Memang, bila dilihat di media sosial, Tito kerap diserang dengan cap anti-Islam. Hal ini sangat terasa saat Polri melakukan penangkapan besar besaran terhadap para terduga teroris, juga saat polisi berperkara dengan Rizieq Shihab yang dijadikan tersangka kasus dugaan obrolan mesum. Begitu pula, saat Polri dinilai kerap bersinggungan dengan aktivis 212.

Tito pun mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan tudingan cap anti-Islam. Menurutnya, ia hanya penegak hukum yang menjalankan tugasnya. Mantan kepala BNPT itu pun di sela perbincangannya dengan Republika menjelaskan ihwal 'bunyi' pengajian.

"Ini tiga kali sepekan, habis ashar," kata dia yang saat itu mengenakan pakaian dinas lengkapnya, namun tetap santai dengan beralaskan sandal selop, bukan sepatu dinas harian.

Tito tetap mengaku bingung dengan cap anti-Islam yang diterimanya. Apalagi, Tito selama ini beberapa belakangan juga diketahui kerap mengunjungi pondok pesantren dan pengajian di berbagai daerah.

"Padahal satu keluarga besar saya muslim, satu keluarga besar saya muslim, ini pengajian juga tiga kali seminggu. Kemudian, keluarga besar saya semua rata-rata sudah haji, saya juga demikian," kata Tito.

Perbincangan pun terus berlanjut dari berbagai topik seperti penyelenggaraan pemilu hingga salah satu protokol menunjukkan jam tangan, menandakan waktu berbincang telah usai. Perbincangan Tito dan Republika pun usai. Namun, suara lantunan ayat Alquran 'di balik' ruangan Tito belum selesai.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement