Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

NU Minta Perbedaan Awal Puasa Dikembalikan pada Alquran

Rabu 14 Mar 2018 16:44 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Agus Yulianto

 Tim rukyatul hilal Jakarta Islamic Center mengamati terbenamnya matahari di Pulau Karya, Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (26/5).

Tim rukyatul hilal Jakarta Islamic Center mengamati terbenamnya matahari di Pulau Karya, Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (26/5).

Foto: Republika/ Wihdan
Umat beragama bisa saling menghargai perbedaan konsep penetapan hari besar.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Lajnah Falakuyah Nahdlatul Ulama (NU) menanggapi pernyataan terkait penetapan awal puasa atau 1 Ramadhan 1439 Hijriah pada Kamis, 17 Mei 2018. Penetapan ini merujuk hasil perhitungan astronomi atau hisab yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid oleh PP Muhammadiyah.

Ketua Lajnah Falakiyah NU, KH Ghazali Masruri meminta, umat beragama bisa saling menghargai perbedaan konsep penetapan hari besar keagamaan yang ditentukan ormas keislaman. "Kembalikan pada Alquran kalau ada perbedaan maka selesaikan Alquran, jadi sebenarnya solusinya konsep Rukyat (melihat bulan) dan perhitungan Hisab yang jadi pedoman sudah solusi mempersatukan, tinggal umat beragama mau bersatu atau tidak," ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jakarta, Rabu (14/3).

Kiai Ghazali menjelaskan, NU memiliki pakar ahli hisab. Namun, hanya menganggap hasil dari hisab hanya sebatas prediksi. Oleh karena itu, hasil dari perhitungan hisab harus diuji dengan cara rukyatul hilal sesudah terbenamnya matahari.

"Jadi, kami rukyat belum, akan diselenggarakan pada tanggal 29 dari bulan Qamariyah yang sedang berjalan. Kalau soal hisab itu kan ramalan. Kami sudah meramalkan beberapa tahun lalu, tapi kami tidak umumkan, tidak dijadikan pedoman saat sidang isbat juga," ucapnya.

"Memang belum saatnya, nanti tanggal 29 ini baru tanggal 26 kurang lebih tiga hari baru akan melakukan Rukyat," katanya lagi.

Ia juga menjelaskan, tujuan penting dari diselenggarakannya rukyatul hilal, yaitu sebagai bentuk uji materi. Sebab, dalam perhitungan Hisab yang dihasilkan oleh pakar Hisab di NU masih juga banyak perbedaaan. "Untuk menwujudkan rukyatul hilal yang berkualitas dan itu penting," katanya.

Dikatakan Kiai Ghazali, untuk mewujudkan hasil dari rukyatul hilal yang berkualitas maka, Lajnah Falakiyah NU juga berkerja sama dengan ahli astronomi. Alat-alat teknologi canggih seperti foto digital dan fotografi dalam rangka pelaksanaan rukyatul hilal juga digunakan.

Kemudian, Lajnah Falakiyah NU memilih tempat-tempat startegis untuk mendukung diperolehnya hasil yang berkualitas. Di antara tempat yang dijadikan lokasi rukyatul hilal adalah lepas pantai, bukit atau menara-menara.

Ia juga mengakui, kondisi cuaca pada saat dilakukannya rukyatul hilal menjadi seringkali menjadi hambatan pemantauan meski bervariasi di setiap daerah. Maka, jadinya, awal ramadan tahun ini bisa serentak bisa tidak tergantung tinggi hilal bisa dilihat, cuaca bagaimana dan hisabnya bagaimana. Jadi semua orang bisa saja memprediksi tetapi akhir di tangan Allah," ungkapnya.

Untuk itu, ia kembali menghimbau kepada pemerintah harus transparan saat sidang isbat supaya rakyat mengerti perbedaan metode penetepaan hari keagamaan. "Mari berpuasa, berhari raya sesuai dengan tuntunan Rasulullah mengikuti caranya termasuk berhari raya, sesuai ajaran Islam, tiru sahabat Rasulullah, maka perbedaan selesai," tuturnya.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA