Minggu, 14 Ramadhan 1440 / 19 Mei 2019

Minggu, 14 Ramadhan 1440 / 19 Mei 2019

Ini Tiga Terima Kasih Ketum PBNU pada Presiden Jokowi

Kamis 23 Nov 2017 17:43 WIB

Red: Agus Yulianto

Presiden Joko Widodo bersama Rais Am, Mustasyar, dan Ketum PBNU, serta Gubernur NTB menabuh Gendang Beleq menandari dibukanya Munas Alim Ulama dan Konbes NU

Presiden Joko Widodo bersama Rais Am, Mustasyar, dan Ketum PBNU, serta Gubernur NTB menabuh Gendang Beleq menandari dibukanya Munas Alim Ulama dan Konbes NU

Foto: dok. kemenag.go.id

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj berulangkali menyampaikan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan sambutan pada pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Mataram, NTB.

Tercatat, setidaknya ada tiga terima kasih yang disampaikan oleh KH Said Aqil Siradj. Pertama, terima kasih karena Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat. Menurutnya, keputusan Presiden tepat dan tidak menyalahi Undnag-undang. Demi keutuhan NKRI dan ketenangan masyarakat, maka ideologi kelompok radikal harus dibubarkan.

“Warga HTI, monggo kalau mau masuk NU, pintu terbuka,” katanya di Mataram, Kamis (23/11).

Terima kasih kedua disampaikan KH Said karena Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pendidikan Karakter sebagai ganti Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Lima Hari Sekolah. Menurutnya, kebijakan itu tepat. Jika lima hari sekolah tetap dijalankan, kesempatan anak sekolah belajar agama menjadi terbatas.

“Madin tetap akan hidup. Madin nantilah yang akan bertanggung jawab membentuk karakter bangsa,” tuturnya.

Terima kasih ketiga karena Presiden telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. “Ini bentuk pengakuan pemerintah dan negara akan peran santri dalam perjuangan,” ujarnya diikuti tepuk tangan hadirin.

Menurut KH Said, kemerdekaan yang diraih Indonesia bukan hadiah. Sejarah mencatat, sedikitnya ada 120 kali pemberontakan melawan penjajah yang dipimpin oleh kyai pesantren.

Hal senada disampaikan Rais ‘Am PBNU KH Ma’ruf Amin. Menurutnya, Hari Santri merupakan bentuk pengakuan begara, meski itu terjadi setelah 70 tahun. “NU menyampaikan terima kasih kepada Presiden,” ujarnya.

KH Ma’ruf menilai, kehadiran presiden di Munas Alim Ulama dan Konbes NU ini menunjukan besarnya perhatian presiden kepada NU. “NU punya tanggung jawab besar mengawal negara dan bangsa dari berbagai ancaman. Itu harus diemban semua pengurus dan warga NU,” tuturnya.

Pembukaan Munas dan Konbes dihadiri lebih dari 1000 undangan. Disamping itu, ribuan warga Nahdliyyin NTB dan provinsi lainnya juga memadati halaman masjid. Tampak hadir juga, Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair, Menag Lukman Hakim Saifuddin,dan Gubernur NTB TBG Zainul Majdi.

Sumber : kemenag.go.id
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA