Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Belajar Kitab

Nashaih Al-Khaththathin, Nasihat untuk Penulis Kaligrafi

Jumat 19 May 2017 16:15 WIB

Rep: Nashih Nasrullah/Berbagai Sumber/ Red: Agung Sasongko

Pengunjung melihat kaligrafi saat pameran Sejarah Islam di Nusantara yang digelar di Kantor PBNU, Jakarta, Senin (30/1).

Pengunjung melihat kaligrafi saat pameran Sejarah Islam di Nusantara yang digelar di Kantor PBNU, Jakarta, Senin (30/1).

Foto: Republika/ Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kaligrafi atau seni tulisan indah sudah dikenal ribuan abad silam. Kaligrafi berasal dari bahasa Yunani, kalios yang berarti Indah dan graphia yang mempunyai arti coretan atau tulisan. Berbeda dengan Yunani, masyarakat Arab lebih mengenal kaligrafi dengan sebutan khath. Khath sering diartikan dengan tulisan indah.

Dalam kitab Irsyad Al Qashid Ila Asna Al-Maqashid, misalnya, Syamsuddin Al-Akfani memberikan definisi khath. Menurut dia, khath adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, penempatannnya, dan cara merangkainya menjadi tulisan atau apa yang ditulis dalam baris kalimat, bagaimana cara menulisnya, dan menentukan kalimat yang perlu ditulis serta mengubah ejaan dan menjadikan sesuatu yang indah.

Kedatangan agama Islam memberikan pengaruh luar biasa terhadap seni kaligrafi, terutama pengaruh Alquran yang memberikan sentuhan pada setiap aspek kehidupan Muslim. Alquran mengangkat kaligrafi ke puncak seni yang dianggap suci. Oleh karena itu, iman telah mendorong kaum Muslim untuk memperelok sebuah tulisan (kaligrafi) dengan menyalin ayat-ayat Alquran. Demikianlah awal mula penamaan kaligrafi Islam menurut Kamil Al Baba, seorang tokoh kaligrafi asal Lebanon. Jadi, bukan kaligrafi Arab, tetapi kaligrafi yang ditulis dengan menggunakan huruf Arab (hijaiyah).

Mengingat besarnya peranan Islam dalam usaha pengembangan kaligrafi, dalam pelbagai literatur, sebutan seni kaligrafi Islam jauh lebih populer daripada sebutan seni kaligrafi Arab. Tak heran jika kemudian Ya’qut Al-Mu’thasimi mempersyarakatkan bahwa suatu tulisan akan disebut indah bila karya tersebut membiaskan pengaruh indahnya kepada hati, jiwa, dan pikiran. Misalnya, pengaruh dakwah dipantulkan dari tulisan kaligrafi yang indah. Kaligrafi adalah arsitektur rohani yang lahir melalui perabot kebendaan, katanya.

Karena itu, dalam Islam, kaligrafi disebut sebagai seninya seni Islam, yakni suatu kualifikasi dan penilaian yang menggambarkan kedalaman makna dengan esensinya berasal dari keseluruhan nilai dan konsep keimanan.

Poin inilah yang menjadi catatan penting bagi seorang pakar kaligrafi Islam Indonesia, Didin Sirajuddin AR. Didin Sirajuddin dikenal sebagai seorang master kaligrafi di Indonesia. Ia telah memenangkan sejumlah perlombaan menulis indah. Ia memiliki perhatian yang sangat besar bagi perkembangan dunia kaligrafi di Indonesia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA