Selasa 18 Apr 2017 10:34 WIB

Membelah Laut Jakarta Bersama Penghafal Alquran

Rep: c62/ Red: Agus Yulianto
Peserta program tahfiz Alquran sedang di atas kapal menuju Pulau Kelapa.
Foto: Ali yusuf
Peserta program tahfiz Alquran sedang di atas kapal menuju Pulau Kelapa.

REPUBLIKA.CO.ID, Sepuluh menit menjelang keberangkatan di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke Jakarta Utara, suara mesin perahu tradisional mulai menyala. Waktu menunjukan pukul 07.20 WIB. Bunyi mesin dengan bahan bakar solar ini, begitu khas suaranya dan mampu memecah kebisingan dari aktivitas sekitar yang menaikan penumpang dan menjual dagangannya.

Menjelang keberangkatan, petugas menghimbau kepada setiap penumpang untuk menggunakan pelampung model rompi bewarna orange. Himbaun ini sebagai salahsatu standar keselamatan menjelang keberangkatan perahu membelah lautan Jakarta.

"Supaya segera berangkat pelampungnya dipakai," kata petugas non PNS Dishub. Dia hanya memakai baju safari biasa, sendal jepit dan celana pendek.

Meski himbauannya tidak digubris para penumpang yang suda berada dikapal, ia tetap mengecek semua kesiapan kapal yang sudah berisi penumpang. Ada sekitar lima kapal bersandar di dermaga dengan masing-masing tujuan ke Kepulauan Seribu.

Kapal yang dinaiki Republika tujuannya Pulau Kelapa dan Pula Harapan. Nama kapalnya adalah Colombus. Kapal tradisional yang familier dengan bobot 70 gross ton (GT) ini, memiliki kapasitas kurang lebih 250 orang plus dengan barang bawaan. Kapal ini pun siap mengangkut penumpang dari berbagi wilayah DKI Jakarta, tanpa tenggelam jika cuaca tidak jahat atau karena faktro lain.

Mendengar himbauannya, memang ada sebagian penumpang yang menurutinya. Namun, ada juga yang hanya memeganginya karena malas menggunanakannya. Apalagi, pelampung itu terlihat sudah kotor dan usang, busanya pun sudah tidak tebal, dan hanya tinggal kainnya saja.

"Make nggak make, tetap tenggelam. Orang pelampungnya sudah rusak," kata Topan dari Ciamis, Jawa Barat yang duduk di samping Republika di kursi belakang menghadap matahari terbit.

Setelah kapal tradisional menjauh dari dermaga, penumpang yang menuruti himbaun petugas untuk menggunakan pelampung, kembali melepaskannya dengan dijadikan alas dan penutup kepala dari sengatan matahari.

Beragam macam tujuan dari penumpang yang ada di perahu tradisional ini. Misalnya, Topan dari Ciamis ini ingin bertamasya biasa. Sementara Amor dan 12 teman lainnya dari Bogor, sengaja datang mengawal proses pilkada yang akan berlangsung di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Amor alias Agus Munoro (42 tahun) nama kepanjangannya, merupakan relawan yang dikenal dengan sebutan safari Al-Maidah.

"Kami datang safari sambil melihat proses demokrasi di pulau terpadat dan terbanyak penduduknya di seluruh Kepulauan Seribu itu seprti apa," katanya saat berbincang dengan Republika.

Macam-macam aktivitas ringan yang dilakukan masing-masing penumpang perahu yang didominasi warna putih biru ini selama perjalanan yang ditempuh dalam waktu tiga jam. Sebagian penumpang ada yang bermain game, sibuk dengan obrolan sesama temannya, dan ada juga yang sibuk dengan membaca Alqura untuk menguatkan hafalannya. Yang terkahir ini dilakukan Anam (18 tahun). Dia adalah salah satu dari rombongan Agus Munoro.

Suara mesin berbahan solar yang sesekali terguncang ombak sehingga membuat perahu bergerak-gerak tidak mengganggu konsentrasi Anam menghafal Alquran. Seskali ia terlihat memejamkan mata, berbarengan sambil menutup alquran ukuran saku. Bosan dengan mata terpejam, ia juga sesekali melemparkan pandangannya ke laut lepas.

Meski sedang konsentrasi menguatkan hafalannya, ia juga tidak segan menjawab pertanyaan kolega yang disampingnya. Anam juga merasa tidak keberatan jika pertanyaan itu berakhir jadi obrolan panjang. Namun, Alquran tetap di tangan kanannya dengan jari menyelip di tengah lembaran Alquran sebagai tanda batas hafalan.

Hal tersebut ia lakukan sejak awal keberangkatan sampai kapal yang ditumpangi berada di tengah lautan. Ada sekitar lima orang yang berada di kapal ini yang sedang mengikuti program Thahfiz Quran menyempatkan diri bersafari ke Pulau Kelapa sambil melihat proses demokrasi. Mereka adalah Anam dari Kalimantan, Mirwan (25) dari Sulaweseli, Hisam (22) dari Morowali, Noval (24) dari Kuningan Jabar, dan Dedi (25) dari Banten. Mereka semua merupakan santri dari Pondok Pesantren Hilal Bogor asuhan Ustaz Rahmatullah sebagai mentor.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement