Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Memaknai Tujuan Penciptaan Manusia

Senin 13 Mar 2017 08:44 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Agung Sasongko

Dakwah

Dakwah

Foto: Dok. Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Segala bentuk penciptaan memiliki maksud dan tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Pun dengan penciptaan mahkluk, termasuk bangsa jin dan manusia. Tujuan penciptaan manusia ini menjadi fokus pembahasan dalam Kajian Ahad Dhuha yang digelar oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Mushala Al-Arofah, Jalan Masjid Al Ridwan, RT 005/RW 09, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakata Selatan, Ahad (5/3) silam.

Kajian dengan tema "Tujuan Penciptaan Manusia" ini diisi oleh Ustaz Amri Azhari. Dalam penjelasannya, Ustaz Amri mengatakan, sebenarnya Allah SWT sudah memberikan alasan yang jelas terkait tujuan penciptaan manusia dan bangsa jin. Alasan ini seperti tertera dalam surah az-Zariyat ayat 56-58. Ayat-ayat tersebut berbunyi, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."

Dari ayat-ayat ini, lanjut Ustaz Amri, Allah SWT menciptakan bangsa jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada Allah SWT. Arti ibadah dalam ayat ini memiliki pengertian yang luas. "Termasuk bagaimana perkataan kita berbuah ibadah, bagaimana pandangan kita penuh dengan kasih sayang berbuah ibadah, datangnya kita ke tempat-tempat yang diridhai Allah juga diganjar pahala. Pun dengan niat kita untuk menauhidkan Allah dalam beribadah dan meninggalkan selain Allah dalam beribadah," kata Ustaz Amri.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, muara ibadah dalam pengertian tersebut termasuk juga menauhidkan Allah, yaitu tidak menyembah atau bersujud kepada selain dari Allah SWT. Kalimat tauhid inilah yang memiliki makna yang begitu besar. Rasulullah SAW bahkan menghabiskan waktu selama 10 tahun berdakwah di Makkah guna mengajak kaum Quraisy dan sekitarnya untuk menegakkan kalimat tauhid.

Tidak hanya itu, sejumlah nabi dan rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad SAW juga berupaya untuk mengajak kaum-kaumnya untuk menyembah Allah SWT dan tidak ada sesembahan selain Allah. Usaha-usaha para nabi dan rasul ini pun mendapatkan ujian dan cobaan dari kaum-kaumnya. Mulai dari usaha Nabi Nuh, seperti yang tertera di surah al-A'raf ayat 56, kemudian dakwah yang dilakukan Nabi Hud. Setelah itu ada pula dakwah yang dilakukan Nabi Sholeh kepada kaum Tsamud.

Pun dengan usaha Nabi Ibrahim untuk mengajak kaumnya berhenti menyembah berhala. Selain itu, ada pula seruan yang diberikan Nabi Luth kepada kaumnya dan Nabi Syuaib kepada kaum Madyan. Seruan Nabi Musa juga dilakukan kepada Bani Israil untuk menyembah Allah SWT dan meninggalkan sesembahan-sesembahan lain.

"Semua seruan atau ajakan dari para nabi dan rasul tersebut berujung ke kalimat tauhid. Kalimat yang memiliki arti menunggalkan atau mengesakan sesuatu, dalam hal ini Allah SWT dan meniatkan semuanya untuk Allah. Termasuk beribadah, sujud sembah, dan meminta hanya kepada Allah SWT," ujar Ustaz Amri.

Riwayat dan kisah para nabi dan rasul dalam menegakkan kalimat tauhid itu menjadi penanda betapa pentingnya kalimat tauhid. Ustaz Amri menjelaskan, kalimat tauhid menjadi ungkapan pertama seseorang untuk menjadi seorang Muslim. Alhasil, dengan kalimat tersebut, seseorang tersebut telah berikrar akan beribadah hanya kepada Allah SWT.

Tidak hanya itu, berdasarkan ikrar dari kalimat tauhid tersebut, sepanjang hidup seorang Muslim harus beribadah dengan dasar pengakuan terhadap keesaan Allah SWT. Kondisi ini pun berimbas saat seorang Muslim harus tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan Allah SWT. "Seorang Muslim adalah orang yang berserah diri dan memiliki totalitas terhadap aturan-aturan Allah SWT. Dari kalimat tauhid ini juga dapat dilihat menjadi awal dan dasar kenapa Allah SWT menciptakan bangsa jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Nya," ujar dia.

Kajian Ahad Dhuha ini memang dilaksanakan setiap waktu Dhuha hingga menjelang masuknya waktu shalat Zhuhur. Kajian yang digelar pada Ahad (5/3) silam merupakan kajian kedua yang digelar oleh DKM Mushalla Al Arofah. "Kajian ini merupakan kajian rutin setiap bula sekali dan dilaksanakan tiap pekan pertama tiap bulan," kata perwakilan DKM Mushalla Al Arofah, Muhammad Soleh.

Pada Kajian Ahad Dhuha edisi pertama, DKM Mushalla Al Arofah memang baru menggelarnya untuk sekitar masyarakat setempat dan pengurus masjid. Namun, pada edisi Kajian Ahad Dhuha yang kedua, DKM Mushalla Al Arofah telah mengundang masyarakat luas dan terbuka untuk umum agar bisa mengikuti kajian tersebut.

Pada kajian-kajian Ahad Dhuha mendatang, DKM Mushalla Al Arofah juga akan mengumumkan kajian secara terbuka untuk umum. Masyarakat dari berbagai lapisan dan wilayah diperbolehkan untuk mengikuti kajian tersebut. "Insya Allah, untuk bulan depan, kami akan kembali menginfokan untuk kajian berikutnya, termasuk soal temanya dan ustaznya akan mengisi kajian," kata Soleh.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA