Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Menag tak Bisa Lupakan Kedisiplinan Ala Gontor

Ahad 21 Agu 2016 14:03 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Achmad Syalaby

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (Republika/ Darmawan)

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (Republika/ Darmawan)

Foto: Republika/ Darmawan

REPUBLIKA.CO.ID, PONOROGO -- Menteri Agama menghadiri sujud syukur dan peringatan milad 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo. Kehadiran Menteri Agama sekaligus mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengenang salah satu ilmu bermanfaat selama menjadi santri bersama rekan-rekan angkatan 83 di Gontor, yaitu tentang kedisiplinan. Ia menilai, kedisiplinan tumbuh di lingkungan Gontor dan bermetamorfosa menjadi sebuah kekhasan tersendiri. Terutama dengan tambahan kesadaran dari santri-santri.

"Kedisiplinan yang diterapkan dan diajarkan merupakan karya originalitas para pendiri-pendiri Gontor yang menganggap kedisiplinan cermin karakter umat Islam dan bangsa Indonesia," kata Lukman di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (20/8) kemarin.

Ia berpendapat, usia 90 tahun bagi sebuah lembaga pendidikan Islam bukanlah usia yang boleh dibilang pendek, terutama dengan perjalanan perjuangan Indonesia. Para pendiri Gontor, lanjut Lukman, telah melalui suka dan duka dalam membangun dan mengelola Pondok Pesantren sejak tahun 1926, seiring berbagai macam fase sejarah Indonesia.

Menurut Lukman, perjalanan Gontor senantiasa berpegang teguh dengan visi untuk memajukan pendidikan Islam, dan tidak melepas nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Hal itu yang membuat eksistensi Gontor terus berekmbang dengan lima prinsip pandang yaitu keikhlasan, kesederhanaa, kemandirian, persatuan-persaudaraan, dan bela negara.

Sujud Syukur merupakan rangkaian kegiatan peringatan 90 tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, sebagai wujud syukur atas apa yang diraih Gontor. Tasyakur diharapkan dapat diisi dengan muhasabah, evaluasi dan koreksi atas kekurangan sebagai dasar pemikiran mengembangkan kemajuan pendidikan Islam di masa depan. 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA