Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Agar tak Memperolok Orang Lain

Jumat 18 Jan 2019 05:35 WIB

Rep: Yusuf Asshidiq/ Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Ada kesombongan dan penghinaan dalam sikap memperolok orang lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Status sosial dan kedudukan tertentu terkadang menggoda seseorang atau sekelompok orang merendahkan orang lainnya. Mereka memperolok serta mencela orang yang dianggapnya lebih rendah atau tak sepadan. Sebab, mereka menganggap dirinya lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Seorang Muslim yang mengenal Allah SWT dan berharap kehidupan bahagia di akhirat, jelas cendekiawan Muslim, Yusuf al-Qaradhawi, tak boleh memperolok orang lain dan menjadikannya sebagai objek permainan. Ada unsur kesombongan dan penghinaan terhadap orang lain dalam sikap tersebut,” katanya.

Menurut dia, Allah menegaskan agar tak memperolok kaum lain sebab barangkali mereka yang direndahkan itu lebih baik. Jangan pula, perempuan memperolok perempuan lainnya karena bisa saja perempuan yang diperolok itu lebih baik daripada perempuan yang memperoloknya.

Al-Qaradhawi menjelaskan, dalam pandangan Allah, orang baik adalah mereka yang beriman, ikhlas, dan menjalin hubungan baik dengan Tuhannya. Mereka bukan dinilai dari rupa, kedudukan, status sosial, bentuk tubuh, maupun kekayaan. Menurut Rasulullah, Allah tak melihat rupa dan kekayaan, tetapi Allah melihat hati dan amalan.

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Mas’ud pernah membuka kain yang menutup bagian kakinya. Terlihat betis Ibnu Mas’ud kecil sekali. Pemandangan itu menggelitik sebagian sahabat yang berada di sekelilingnya saat itu terbahak. Rasulullah tak membiarkan begitu saja kejadian itu. Ia segera merespons dan bersikap tegas.

Apakah kamu menertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud? Demi Allah, yang diriku dalam kekuasaan-Nya bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada Gunung Uhud,” jelas Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thayalisi dan Ahmad yang dikutip al-Qaradhawi dalam bukunya Halal dan Haram.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA