Kamis, 11 Jumadil Awwal 1440 / 17 Januari 2019

Kamis, 11 Jumadil Awwal 1440 / 17 Januari 2019

Berburu Manuskrip Keagamaan Nusantara

Ahad 13 Jan 2019 11:25 WIB

Rep: Sri Handayani/ Red: Elba Damhuri

Manuskrip keagamaan yang akan digitalisasi oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan LKKMO Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI

Manuskrip keagamaan yang akan digitalisasi oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan LKKMO Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI

Foto: Dok Kemenag RI
Ada juga karya ulama-ulama nusantara yang tersimpan di luar negeri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Kajian Keagamaan dan Manajemen Organisasi (Puslitbang-LKKMO) Kementerian Agama, Muhammad Zain, mengatakan, ada ratusan ribu manuskrip keagamaan yang perlu diselamatkan. Saat ini, dokumen-dokumen tersebut masih terus dicari dan sebagian ada di tangan masyarakat.

Baca Juga

"Mereka kadang kurang memiliki pengetahuan tentang bagaimana merawat naskah. Ini yang sedang kita kejar," kata Zain, Sabtu (12/10).

Menurut Zain, manuskrip keagamaan nusantara tersebar di berbagai lokasi. Sebagian naskah tersimpan rapi sebagai koleksi Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Badan Arsip Nasional, Puslitbang Kemenag, Perpustakaan Daerah (Perpusda), dan berbagai museum.

Saat ini, Puslitbang Kemenag telah melakukan digitalisasi terhadap sekitar 2.500 manuskrip keagamaan. Selain upaya penyelamatan, naskah-naskah yang ada menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Ada pula 978 manuskrip keagamaan dari total 12 ribu koleksi manuskrip Perpusnas RI. Naskah-naskah ini dalam kondisi lebih aman, sebab setiap instansi atau lembaga memiliki petugas khusus untuk merawatnya.

Zain juga menyebut adanya karya ulama-ulama nusantara yang tersimpan di luar negeri. Sebagian besar naskah itu kini menjadi koleksi British Council dan Raffless Foundation. Selain Inggris dan Belanda, sebagian naskah juga tersimpan di Kairo, Makkah, Maroko, Iran, dan Jepang.

Upaya penyelamatan masih terus dilakukan. Selain melakukan perburuan dan pelacakan naskah, Puslitbang Kemenag juga bekerja sama dengan para peneliti dan otoritas negara setempat untuk mendapatkan kembali manuskrip yang ada di luar negeri. Ia menyebut ada 20 ribu manuskrip digital telah diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Indonesia.

Karya ulama nusantara

Zain menuturkan beberapa manuskrip yang berhasil ditemukan oleh Puslitbang Kemenag. Karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang ditulis pada abad ke-18, misalnya, berisi fatwa mengenai wajibnya penggunaan peti dalam penguburan jenazah.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tinggal di Martapura, Kalimantan Selatan. Ini merupakan daerah rawa. Di wilayah tersebut, jenazah yang dikuburkan tanpa peti bisa terapung di rawa hanya dalam hitungan hari. Oleh karena itu, ia berfatwa bahwa wajib hukumnya memakamkan jenazah dengan peti.

"Fatwa ini muncul di Indonesia. Di Arab tidak mungkin terjadi karena Arab tidak ada rawa-rawa," ujar Zain.

Karya fenomenal lain juga ditulis Dr Nawawi Abdul Razak. Ia merupakan putra Mandar, Sulawesi Barat, yang berhasil menyelesaikan disertasi di Universitas al-Azhar, Kairo. Ia menulis kitab tentang zakat yang dianggap paling lengkap daripada yang pernah ada.

"Tentang zakat, orang selalu merujuk Dr Yusuf Qardawi. Puslitbang Lektur menemukan sebuah karya orang Mandar, namanya Dr Nawawi Abdul Razak. Dia menulis disertasi 3.628 halaman di al-Azhar, Kairo, tahun 1980. Inilah kitab zakat yang paling (lengkap dan setara) ensiklopedia zakat," ujar Zain.

Karya itu kini tersimpan di Wisma Indonesia, Kairo. Di dalamnya terdapat pembahasan 2.000 masalah zakat di seluruh dunia. Disertasi itu ditulis berdasarkan 3.000 referensi.

Selain membicarakan tentang zakat secara umum, ada pula pembahasan yang cukup spesifik mengenai zakat untuk rumah kos dan zakat untuk orang dengan gangguan jiwa. Nawawi juga membandingkan hukum zakat yang berlaku pada masa pemerintahan Islam dengan hukum Romawi dan Prancis.

Setelah melahirkan hasil karya tersebut, Nawawi meninggal dunia pada 1983. Saat itu, usianya baru menginjak 51 tahun. Untuk mengabadikan karya intelektualnya, tahun ini Puslitbang Kemenag menerbitkan hasil karya tersebut dalam enam jilid.

"Sepanjang saya baca buku zakat, tidak ada yang sepintar dan sekomprehensif ini. Jadi, ini baru dicetak, belum diterjemahkan. Untuk menerjemahkan, butuh sekitar Rp 500 juta," kata dia.

Masih hadapi tantangan

Upaya memburu dan menyelamatkan naskah-naskah kuno agama Islam, menurut Zain, hingga kini masih menghadapi tantangan. Sebagian berasal dari pandangan para pemilik naskah.

Sebagai salah satu upaya penyelamatan, tahun ini Puslitbang Kemenag akan mengadakan sayembara penulisan katalog manuskrip keagamaan nusantara. Kegiatan ini terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk pelajar, mahasiswa, para peneliti, maupun pemilik naskah. Para penulis diminta mengirimkan judul naskah, nama penulis, ringkasan isi manuskrip sebanyak 3.000 kata, serta beberapa foto naskah. Setiap pengirim naskah yang lolos seleksi akan mendapatkan apresiasi.

"Kita akan beri apresiasi kepada mereka dan akan di-online-kan agar dinikmati generasi milenial. Anak sekarang tidak mau baca buku tebal-tebal, tapi diringkas," ujar dia. Kendati demikian, Zain belum memastikan kapan sayembara ini akan dibuka.

(ed: nina ch)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA