Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Beginilah Potret Aktivitas Subuh di Masjid Jogokariyan

Jumat 11 Jan 2019 14:49 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nashih Nashrullah

Ustaz Erick Yusuf saat mengisi tausiyah subuh di Masjid  Jogokariyan Yogyakarta, Kamis (10/1).

Ustaz Erick Yusuf saat mengisi tausiyah subuh di Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Kamis (10/1).

Foto: Republika/Wahyu Suryana
Kegiatan shalat Subuh berjamaah mendapat antusiasme masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA –  Suasana subuh di Masjid Jogokariyan memang beda dari masjid-masjid kebanyakan. Jauh sebelum azan subuh berkumandang, sejumlah jamaah ikhwan maupun akhwat sudah terlihat mengisi sisi-sisi masjid.  

Belum pula masuk halaman, ramai bunyi gemericik air yang ke luar dari keran-keran dan terhempas tangan menjadi penerima tamu menenangkan. Suaranya tegas memecah hening malam, menjadi penanda ada banyak orang di sana.  

Seorang penjaja angkringan sedang mempersiapkan dagangannya di bagian belakang masjid. Gorengan yang baru matang, plastik-plastik minuman kemasan, pelan-pelan ditata di gerobak coklat yang terparkir tepat di samping ruang sekretariat. 

Memasuki lokasi parkir motor, benar saja dugaan. Sejumlah kendaraan roda dua sudah bejajar rapi di pelataran. Seakan belum bosan memberi kesan, satu unit ATM Beras bertengger gagah tepat di samping parkiran.  

Membayangkan bentuk ATM Beras itu, terlintas seperti Optimus Prime yang sedang mengajak bicara Sam. Teman, kau tidak akan pernah kubiarkan kelaparan.  

"Monggo," ucap seorang petugas keamanan berseragam safari yang sedang memegang tongkat lampu. Walau tampak kerepotan, sambil mencoba berdiri dan membenarkan sepatunya, si bapak tampak ramah mempersilakan jamaah yang datang untuk masuk.  

Memutar sedikit ke depan menuju tempat wudhu, benar saja, sejumlah jamaah telah selesai menyucikan diri dan hendak menuju ruangan utama shalat. Sejumlah jamaah lain, menunggu giliran di belakang mereka untuk mengambil wudhu. 

Untuk ukuran masjid, suasana sekitar pukul 04.00 itu memang tampak tidak biasa. Sebab, walau azan belum berkumandang, sejumlah orang malah sudah berkegiatan di beberapa sisi yang ada di masjid.  

photo

Jamaah perempuan memadati Masjid Jogokariyan untuk menunaikan shalat Shubuh. Foto: Republika/ Wahyu Suryana

Ada yang berzikir, ada yang membaca Alquran, ada pula yang tengah melaksanakan shalat sunnat dua rakaat. Dari luar, jamaah sekitar terus berdatangan. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang menggunakan kendaraan.  

Ucapan salam dan jabatan tangan menjadi tradisi penghangat yang dilakukan orang orang. Hebatnya, rata-rata percakapan memang tidak terjadi lama. Sebab, begitu sampai ke masjid, masing-masing melakukan kegiatannya sendiri.  

Uniknya, mereka yang sudah berkegiatan tidak cuma berusia tua. Sejumlah jamaah yang mengisi bagian luar malah sebagian besar berusia muda. Beberapa, terlihat membawa tas ransel besar, tanda mereka datang dari daerah yang cukup jauh.  

"Allahu akbar Allahu akbar," suara azan akhirnya berkumandang. 

Rentetan jamaah semakin banyak masuk ke halaman masjid. Semakin banyak pula ibu-ibu yang sibuk mengenakan mukena kepada putri-putrinya. Dari depan, para musafir mulai merapikan tas ransel mereka agar rapi.  

Kondisi itu sendiri memang menjadi pemandangan yang sangat lumrah di Masjid Jogokariyan. Hampir setiap hari jamaah-jamaah berbagai daerah di Indonesia datang melakukan kunjungan  

Biasanya, mereka tidak cuma datang untuk merasakan langsung shalat berjamaah maupun kajian-kajian yang. Pengunjung yang kerap berasal dari Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) itu ingin mendapat kisi-kisi.

Utamanya, tentang bagaimana para pengurus mampu menghidupkan masjid sebagai pusat peradaban umat. Termasuk, menarik generasi muda untuk terbiasa datang serta berkegiatan di masjid. 

Mulai rombongan motor, rentetan mobil sampai barisan bus-bus besar menjadi pemandangan biasa di sana. Karenanya, salah satu tanah kosong yang ada di seberang masjid dijadikan tempat parkir pengunjung yang datang.  

"Saya sendiri sudah lama ingin merasakan langsung seperti apa ghirah umat di sini," kata Ustaz Erick Yusuf usai mengisi kajian subuh di Masjid Jogokariyan, Kamis (10/1).  

Walau didaulat mengisi kajian subuh, Pembina Pesantren Kreatif iHAQI itu mengaku sudah lama mendengar kesohoran ghirah tersebut. Seperti pengunjung lain, Erick mengaku kagum dengan jamaah Masjid Jogokariyan. 

Budaya yang juga jarang ditemukan, terlihat saat shalat subuh berjamaah telah selesai. Yaitu, saat jamaah terlihat tidak buru-buru berzikir, dan malah tenang menantikan kajian subuh yang ada.

photo

Masjid Jogokariyan di Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Setelah selesai, jabatan tangan menjadi tradisi yang dilakukan setiap jamaah kepada jamaah lain. Ada jamaah yang pulang ke rumah untuk langsung menjalani aktivitas, ada pula yang menuju angkringan untuk mencari sarapan.   

Asap dari gelas-gelas yang ada di meja-meja angkringan begitu menggoda. Aroma teh maupun kopi menjadi teman pertama sambil menunggu dagangan lain dijajakan. Mulai nasi kucing, aneka sate sampai goreng-gorengan tersedia.

Ditemani obrolan hangat permasalahan bangsa terkini, sinar matahari perlahan tiba menyapa. Sinar itu biasanya jadi penanda waktu bagi jamaah-jamaah saling berpamitan untuk melanjutkan aktivitasnya.  

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA