Sabtu 17 Nov 2018 20:56 WIB

Hijrah, Cara Hidup Baru

Gaya hidup bisa bergeser kapan saja ketika tren gaya hidup baru lainnya muncul.

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Agung Sasongko
Hijrah, ilustrasi
Hijrah, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sosiolog Universitas Gajah Mada, Muhammad Najib Azca menuturkan, apa yang terjadi dengan hijrah ini merupakan hasil dari maraknya gerakan sosial yang bertajuk keagamaan. Menurutnya, perlu dikaji lebih banyak apakah fenomena ini akan terus ada di Indonesia.

Menurutnya, berhijrah merupakan fenomena sosial yang menandai adanya fase krisis dalam diri manusia khususnya anak muda. Dimana dalam fase krisis tersebut, seseorang memerlukan jawaban yang kemudian bertansformasi melakukan perubahan, dalam hal ini adalah indikator keagamaannya.

Baca: Fenomena Hijrah akan Terus Menyebar

"Tapi alangkah baiknya jika itu tidak hanya berdimensi personal dan ritual, tapi lebih berdimensi sosial, misalnya jadi lebih peduli pada orang lain, lebih banyak memberikan bantuan pada orang lain. Jadi orang tidak hanya berpikir keselamatan individualnya saja tapi juga keselamatan atau kesejahteraan dan keadilan sosial," papar Najib.

Najib mencontohkan bagaimana hijrah tidak hanya sebagai gaya hidup. Dimana tren gaya hidup bisa bergeser kapan saja ketika tren gaya hidup baru lainnya muncul. Namun bisa saja hijrah digunakan sebagai cara hidup baru.

Baca Juga: Memahami Anjuran Berpakaian Bersih

"Maka akan bisa berjangka panjang atau juga bisa pengaruh kelompok yang mampu mentrasformasikan ini sebagai way of life besar atau kecil, kalau kecil ya mungkin pengaruhnya terbatas" jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement