Selasa 23 Oct 2018 17:56 WIB

Muhammadiyah: Ada Makna Perjuangan Islam di Bendera Tauhid

Abdul Mu'ti mengatakan, pembakaran bendera kebablasan.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ratna Puspita
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti
Foto: RepublikaTV/Havid Al Vizki
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan, ada makna perjuangan Islam pada bendera bertuliskan tauhid. Ia pun menjelaskan sejarah bendera bertuliskan kalimat tauhid pada zaman Rasulullah SAW. 

Ada dua bendera bertuliskan kalimat tauhid. Pertama, Alliwa, yakni latarnya putih, dan tulisan tauhidnya berwarna hitam. Kedua, yakni Arrayah, latarnya hitam dan tulisan tauhidnya berwarna putih.

Baca Juga

Ia mengatakan, Alliwa dan Arrayah merupakan panji-panji perjuangan yang selalu dibawa oleh Rasulullah dan sahabat dalam tiap pertempuran. “Jadi, maknanya tentu sangat kuat, baik dalam konteks misi perjuangan Islam maupun dalam konteks akidah Islam karena berkaitan dengan kalimat tauhid," kata dia, Selasa (23/10).

Ia menambahkan, sahabat-sahabat Rasulullah juga ada yang secara khusus membawa bendera itu untuk mengobarkan semangat juang. “Agar mereka memiliki keteguhan di dalam jihad fi sabilillah," ujar dia.

Mu'ti juga berpandangan, seharusnya pembakaran bendera itu tidak perlu dan tidak seharusnya terjadi. Aksi itu, kata dia, sudah kebablasan, apalagi dilakukan pada saat peringatan Hari Santri. 

Ia menyesalkan bagaimanapun yang dibakar itu adalah kalimat syahadat yang sangat suci dan mulia. Ia mengatakan, kalau mereka melakukan itu sebagai bentuk nasionalisme, hal tersebut merupakan ekspresi dan aktualisasi yang keliru. 

“Nasionalisme seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang santun dan tetap dalam bingkai akhlak yang luhur," katanya.

Jika yang mereka maksudkan adalah membakar bendera HTI, kata Mu'ti, ekspresinya bisa dilakukan dengan cara yang lain. Misalnya, ia mencontohkan dengan simbol-simbol atau tulisan HTI, tidak dengan membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid atau thayibah.

Mu'ti menilai, sangat wajar apabila sebagian umat Islam marah terhadap aksi pembakaran kalimat tauhid ini. Kendati demikian, ia meminta masyarakat, khususnya umat Islam, tidak perlu menanggapi persoalan pembakaran bendera secara berlebihan.

Pada peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Alun-alun, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, terjadi pembakaran bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid. Kejadian ini menimbulkan kontroversi dan polemik di masyarakat, terutama umat Islam.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement