Jumat 07 Sep 2018 16:05 WIB

Cara Terbaik Merayakan Tahun Baru Hijriyah

Evaluasi ketakwaan bisa dilihat dari tiga aspek, yaitu iman, Islam, dan ihsan.

Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas memberikan paparan pada pembukaan Kongres Ulama Muda Muhammadiyah di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Selasa (30/1).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas memberikan paparan pada pembukaan Kongres Ulama Muda Muhammadiyah di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Selasa (30/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun baru Hijriyah kerap dijadikan momentum untuk mengevaluasi diri. Berbagai harapan untuk dapat menjalani tahun baru yang lebih baik tentu juga menjadi harapan seluruh umat Islam.

Berikut adalah kutipan wawancara reporter Republika, Dea Alvi Soraya, bersama Plt Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Yunahar Ilyas mengenai cara terbaik memperingati 1 Muharam 1440 Hijriyah.

Bagaimana seharusnya umat Islam merayakan Tahun Baru Islam?

Perayaan Tahun Baru Hijriyah jangan dirayakan seperti merayakan tahun baru Masehi. Tahun baru Hijriyah sebaiknya diisi dengan kegiatan kegiatan positif atau hal lain yang bisa membantu kita mengevaluasi diri serta mempermudah kita menyusun rencana hidup yang lebih baik pada tahun berikutnya, baik target dunia maupun akhirat. Agar keduanya dapat berjalan selaras dan seimbang.

Apa cara terbaik merayakan Tahun Baru Islam?

Menyambut 1 Muharram itu cukup dengan mengadakan pengajian, diskusi, seminar keagamaan, muhasabah atau evaluasi, baik itu evaluasi terhadap umat, bangsa, maupun personal. Jika didasarkan pada Alquran, hal pertama yang perlu dievaluasi adalah takwa dan ditutup dengan takwa pula. Jadi, bukan hanya karier, harta, jabatan, atau urusan duniawi lain yang perlu dievalusi, justru yang terpenting adalah evaluasi ketakwaan.

Bagaimana cara mengevaluasi tingkat ketakwaan?

Evaluasi ketakwaan bisa dilihat dari tiga aspek, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Pertama, tinggi rendahnya keimanan dapat dilihat dari sisi tauhid, seperti memastikan tidak adanya perbuatan syirik, suuzan, atau kemusyrikan yang dilakukan pada tahun sebelumnya.

Kedua, evaluasi tentang Islam. Islam intinya adalah rukun Islam, seperti tentang shalat yang dikerjakan selama ini sudah tertib atau belum? Jika sudah tertib, istiqamah berjamaah atau tidak? Lalu, bisakah memaknai shalat itu bagi kehidupan?

Itu semua harus dipastikan untuk mengetahui tingkat keislaman. Karena orang yang dapat melaksanakan shalat dengan baik, tentu jauh dari perbuatan keji dan mungkar. Jika seseorang masih melakukan kemungkaran, dapat dipastikan shalatnya belum efektif dan belum berpengaruh dalam kehidupannya.

Ketiga, evaluasi tentang ihsan, yaitu akhlak, baik akhlak pribadi, sosial, maupun akhlak di ruang umum. Akhlak pribadi dilihat dari kebiasaan seseorang, apakah sudah sesuai ajaran Islam atau belum.

Selanjutnya adalah akhlak publik, yaitu mengevaluasi perilaku saat berada di tempat umum, seperti jalan raya, ruang-ruang umum, baik saat antre, buang sampah, maupun bertegur sapa.

Terakhir, akhlak sosial. Ini penting agar seseorang mampu mengetahui akhlaknya bagi sesama, baik kepada orang miskin, anak telantar, yatim, dll.

Menurut saya, itu yang paling substantif dievaluasi. Intinya adalah ketakwaan sangat perlu dievaluasi untuk menyambut tahun baru Islam.

Bagaimana mendorong perkembangan Islam pada era globalisasi seperti saat ini?

Saat ini zaman memang sangat modern, bahkan banyak orang memutuskan berhijrah dengan cara yang lebih modern, salah satunya melalui media sosial. Maka dari itu, para mubaligh dan aktivis dakwah sangat perlu memanfaatkan keberadaan media untuk berdakwah.

Jadi, tidak perlu mencela atau berburuk sangka bahwa anak zaman sekarang malas pergi ke masjid atau malas mendengarkan ceramah agama karena mereka sangat mungkin belajar agama melalui media sosial.

Bagaimana cara memastikan dakwah melalui media sosial tetap searah dengan ajaran Alquran dan sunah?

Jalur dakwah di media sosial memang tidak ada kontrolnya. Jadi, sulit untuk membatasi materi yang disampaikan. Jika ketemu topik ceramah di media sosial yang sesuai dengan Alquran dan sunah dan mengajak pada Islam yang damai, ya itu alhamdulillah. Namun, tetap ada kemungkinan dakwah yang didengar di media sosial itu juga mengandung muatan yang menyimpang atau mungkin mengarah pada hal negatif.

Maka dari itu, media sosial perlu diisi oleh topik dakwah yang baik karena memang generasi saat ini lebih akrab dengan media sosial. Para mubaligh dan dai juga disarankan dapat memanfaatkan media sosial sebagai wadah berdakwah.

Walaupun perlu diakui bahwa saat seseorang belajar melalui media sosial, maka tujuan dakwah, topik ceramah, dan sesi diskusi, tidak akan mudah didapat seperti halnya mengikuti pengajian langsung di masjid.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement