Senin 16 Jul 2018 23:00 WIB

Cara Rasulullah Tertawa

Beliau sendiri menyukai candaan, selama tidak mengundang kebohongan atau berlebihan

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Rasulullah
Foto: wikipedia
Rasulullah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Budi pekerti Rasulullah SAW tampak ketika menghadapi guyonan. Beliau sendiri menyukai candaan, selama tidak mengundang kebohongan atau berlebih-lebihan. Al- Hufy mengutip kata-kata Nabi SAW, Tidak baik orang yang tidak gembira dan tidak membuat gembira.

Ya, kegembiraan lebih menarik hati ketimbang bermuka masam dan bengis.Bila batas-batas melakukan humor adalah tanpa menyebutkan dusta, respons terhadapnya juga tidak boleh keterlaluan.

Cara Rasulullah SAW tertawa, misalnya, hanyalah senyuman atau kadang kala sampai sebersit kelihatan giginya. Namun, tidak pernah beliau terbahak-bahak. Yang ada, beliau kerap menutupi mulut dengan tangannya ketika tertawa.

Lebih dari dua dasawarsa beliau berjuang menyebarkan Islam kepada manusia. Penerimaan mereka terhadap Islam antara lain setelah menyaksikan atau merasakan sendiri betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW.

Sebagaimana agama Islam yang diperuntukkan universal kepada seluruh bangsa manusia dan jin, budi pekerti beliau juga dapat diteladani siapa saja.Bagi orang Muslim, hal itu memang telah menjadi cerminan keimanannya terhadap Alquran dan Sunah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement