Ahad 29 Apr 2018 06:07 WIB

BIN: Takmir Masjid Harus Bentengi Masjid dari Paham Radikal

Masjid tak menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian, terutama jelang tahun politik.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mengatakan, takmir masjid harus menjadi garda terdepan dalam membentengi tempat ibadah dari paham radikal maupun politik praktis. Hal itu, dia mengatakan, agar masjid tidak menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian, terutama menjelang tahun-tahun politik seperti saat ini.

"Perlu kiranya dipikirkan untuk melakukan pelatihan peningkatan kapasitas (capacity building training) untuk mendorong dan meningkatkan kemampuan takmir masjid mewujudkan masjid sebagai media penyebaran Islam yang rahmatan lil 'alamin dan pemersatu bangsa," kata Kepala BIN pada acara silaturahim dengan Takmir Masjid Se-Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Sabtu (28/4), seperti dikutip dari siaran persnya.

Dalam sambutannya, mantan wakil kepala Polri ini menjelaskan, masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk fisik maupun fungsi dan perannya. "Alhamdulillah, di mana ada komunitas Muslim di situ ada masjid," kata purnawirawan jenderal bintang empat Polri ini.

Pada masa Nabi Muhammad Rasulullah, lanjut dia, masjid memiliki multifungsi. Selain sebagai tempat ibadah, dia mengatakan masjid juga berfungsi sebagai tempat menimba ilmu (tholabul ilmi), tempat bermasyarakat, dan tempat syi'ar dakwah Islam. Dengan demikian, Islam bisa mencapai titik kejayaan dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. 

“Kami bersyukur sekarang ini suasana dakwah dan penyebaran Islam di Tanah Air tumbuh dengan pesat. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran keagamaan dan pembinaan akhlaq di kalangan masyarakat telah membaik," kata Budi yang juga sebagai Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini.

Namun, saat ini muncul kekhawatiran banyak masjid disinyalir menjadi tempat pengajaran dan penyebaran paham radikal yang menjadi bibit-bibit munculnya terorisme. Dia mengatakan kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, apalagi di alam kebebasan berbicara seperti saat ini.

Bahkan, lanjut dia, ceramah-ceramah agama di masjid-masjid saat ini banyak berisi ateri yang mengajak orang untuk "berperang" melawan orang yang berbeda keyakinan dan agama. Ada juga yang menggiring jamaah untuk melakukan kekerasan atas nama agama.

Dia mengatakan ajakan itu menyebut kekerasan sebagai jihad mulia yang balasannya adalah surga, dan mati di jalan jihad ini adalah mati mulia. "Banyak generasi muda yang punya semangat keagamaan tinggi, tetapi tidak cermat dan kritis memilah dan memilih sumber referensi akhirnya ikut bergabung demi imajinasi indah yang menyesatkan," kata Budi.

Kelompok intoleran

Di samping itu, kata dia, bersamaan dengan aktifitas ritual yang dapat dikembangkan di masjid, kelompok intoleran juga telah melakukan sejumlah aksi yang justru merugikan umat Islam. "Banyak pengalaman menunjukkan, misalnya, kondisi di Timur Tengah yang hancur pascagelombang Arab Springs. Fenomena ini terjadi bermula dari khotbah intoleran dan radikal yang dikembangkan di masjid," ujarnya.

Khotbah para pengikut intoleran dan radikal berbeda dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Dia mengatakan Nabi Muhammad SAW lebih menekankan pada penegasan implementasi taqwa dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Dia menuturkan kelompok intoleran menekankan pada tema politik dan hasutan-hasutan yang merusak citra pemimpin dan citra umat Islam yang ingin mengajarkan Islam rahmatan lil’alamiin. Pada titik inilah, masjid perlu tetap dikelola sesuai fungsinya, yakni sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan, pengajaran, dan pembangunan karakter positif serta harus menjadi peredam gerakan radikalisme.

“Bukan justru menjadi pusat pengajaran paham radikalisme maupun intoleran yang dapat memecah-belah bangsa sehingga mengancam keselamatan dan keutuhan NKRI. Masjid harus menjadi pilar ketahanan umat (society resilience) dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan," papar Budi.

Ia pun menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya terkait peran positif yang telah-sedang-akan selalu diberikan oleh para ulama/kiai dan para takmir masjid. Terutama dalam merawat prinsip-prinsip kebersamaan dan kerukunan kebangsaan di Indonesia.

"Saya berharap takmir masjid dapat menggali dan menginventarisasi potensi-potensi yang ada untuk kepentingan umat, baik dari sisi advokasi, pemberdayaan dan sebagainya sehingga kerahmatan masjid dapat dirasakan oleh masyarakat," katanya. 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement