Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Jiwa-Jiwa Pahlawan

Sabtu 11 Nov 2017 04:28 WIB

Rep: A Syalabi Ichsan/ Red: Agung Sasongko

Bung Tomo

Bung Tomo

Foto: Youtube

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kisah kepahlawanan terdengar di Desa Maroko, Kecamatan Ranteangin, Kola ka Utara, Sulawesi Utara. Di lan sir dari la man Kemendikbud, se orang anggota Babinsa, Serka Darwis nekat membuat jembatan katrol untuk menolong anak sekolah dan warga menyeberang Sungai Ranteangin. Dengan bekal tali, se lembar papan dan bambu, Prajurit TNI Ko rem 143/HO Ken dari itu berani mempertaruhkan nyawa untuk mengantar mereka menyeberang.

Tidak adanya jembatan peng hubung antara Desa Wawo dan Desa Maroko mem buat anggota Babinsa Lalusua itu menguji nyali untuk menyeberang ala flying fox. Sebelumnya, memang ada alat tali gantung untuk membantu anak-anak menyeberang dengan rakit yang terbuat dari batang pohon pisang.

Hanya, fasilitas itu tidak berlangsung lama. Tingginya air sungai saat musim hujan tiba membuat jembatan itu su kar dilalui dengan rakit. Serka Darwis yang enam tahun lagi akan pensiun pun menolong war ga melalui sarana penyeberangan darurat itu.

Pada 10 November ini, kita bisa memutar ulang rekaman pidato Bung Tomo yang menggelegar. Bung Tomo memanaskan darah juang para TKR, milisi dan rakyat. Bung Tomo minta mereka tidak tunduk kepada ultimatum tentara Inggris yang meminta pe juang Indonesia menyerahkan sen jata dan menyerah dengan ke pala di atas tangan.

"Kita lebih baik hancur lebur dari pada tidak merdeka. Semboyan kita tetap merdeka atau mati. Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan selalu di pihak yang benar. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!".

Seperti yang sudah-sudah, pe merintah mengangkat tokoh-to koh pejuang untuk menjadi pah la wan. Pada 2017 ini, beberapa tokoh yakni TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Lak sa mana Malahayati, Sul tan Mahmud Riayat Syah, Dr Lafran Pane. Mari kita kenang Laksamana Malahayati. Nama aslinya Keuma lahayati, seorang pelaut Mus limah yang berjasa mempertahankan Tanah Air dari serangan penjajah.

Laksamana Malahayati pun pernah terlibat dalam pertempuran melawan pasukan kolonialisme Belanda pimpinan Cornelis de Houtman. Pasukan itu menghadapi kontak senjata dengan pasukan Kesultanan Aceh Darussalam pada 21 Juni 1599. Meskipun, kedatangan awal mereka adalah hubungan perdagangan.

Namun, seiring waktu berja lan, Su ltan al-Mukammil merasa tidak senang dengan kehadiran Houtman. Diduga ketidakse nang an itu berasal dari hasutan orang Portugis yang bekerja se bagai penerjemahnya. Kemudian, tanpa waktu yang lama, al-Mu kammil memerintahkan pasukan Malahayati untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di kapal-kapalnya.

Alhasil, Cornelis de Houtman dan be berapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara selama dua tahun. Dikabarkan, Cornelis de Hout man adalah orang Belanda pertama yang menginjakkan kaki di tanah nusantara dan tewas di tangan Keumalahayati.

Sejak peristiwa itu, nama Lak samana Malahayati semain tersohor di seantro nusantara bah kan hingga ke Eropa. Atas ke beranian hingga dikenal sebagai Laksa mana Malahayati, nusantara mengabadi kan namanya da lam salah satu nama kapal pe rang Republik Indonesia, KRI Mala hayati.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan dimaknai sebagai orang yang menonjol ka rena keberanian dan pengorban annya dalam membela kebenar an. Ka rena itu, tidak semua orang bisa menjadi pahlawan.

Di dalam bahasa Arab, kata pahlawan di arti kan sebagai batholun. Kata dasarnya adalah bathula atau be rani. Kata ini mempunyai lawan kata jabuna yang berarti penakut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA