Kamis 09 Nov 2017 01:15 WIB

Anak Muda Gemar Cari Pengetahuan Agama Melalui Internet

Rep: novita intan/ Red: Agus Yulianto
Mengakses internet (Ilustrasi)
Foto: ABC
Mengakses internet (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menemukan, anak-anak muda gemar mencari sumber pengetahuan agama melalui internet berupa blog, website dan media social dengan persentase 54,87 persen. Sumber rujukan kedua adalah buku atau kitab dengan persentase 48,57 persen.

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta Saiful Umam mengatakan, seiring berkembangnya dunia teknologi menjadikan generasi muda menjadikan internet sebagai rujukan pertama. "Channel televisi menempati posisi ketiga dengan presentaso 33,73 persen," ujarnya saat acara Api dalam Sekam Keberagaman Genz di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (8/11).

Di sisi lain, relasi dengan Muslim aliran minoritas sulit menerima Muslim yang mengikuti ajaran Ahmadiyah dan Syiah. Secara rinci, sebanyak 30,99 persen para siswa dan mahasiswa menyebut Syiah sebagai kelompok yang tidak disukai di urutan pertama sedangkan sebanyak 19,72 persen menyebut Ahmadiyah diurutan kedua.

Sementara sebesar 64,66 persen para guru dan dosen menyebut Ahmadiyah di urutan pertama dan sebesar 55,60 persen menyebut Syiah di urutan kedua sebagai kelompok yang tidak disukai.

Sebanyak 44,72 persen para guru dan dosen, sebanyak 49 persen para siswa dan mahasiswa tidak setuju jika pemerintah harus melindungi penganut Syiah dan Ahmadiyah. Sebesar 87,89 persen para guru dan dosen, sebesar 86,55 persen para siswa dan mahasiswa setuju jika pemerintah melarang keberadaan kelompok-kelompok minoritas yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Terakhir, sebanyak 34,16 persen para guru dan dosen, sebanyak 64,17 persen para siswa dan mahasiswa mendukung pemerintah mengembalikan pengungsi Ahmadiyah Syiah di Sidoarjo ke tempat asal mereka.

Dalam penelitian ini target populasi adalah siswa dan guru di tingkat SMA dan mahasiswa dan dosen perguruan tinggi, yang berada di lingkungan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Survei ini dilakukan pada rentang waktu antara 1 September sampai 7 Oktober 2017. Penelitian ini dilakukan di 34 provinsi di Indonesia, di mana untuk setiap provinsi dipilih secara acak 1 kabupaten dan 1 kota.

Jumlah sekolah diambil menggunakan teknik proportional sampling sehingga kabupaten atau kota yang lebih banyak jumlah sekolahnya memiliki jumlah sampel sekolah yang lebih banyak pula. Total jumlah sampel dalam survei ini adalah 2.181 orang, yang terdiri dari 1.522 siswa dan 337 mahasiswa serta 264 guru dan 58 dosen pendidikan Agama Islam.

Penelitian ini menggunakan dua alat ukur untuk mengukur tingkat intoleransi dan radikalisme. Pertama, alat ukur Implicit Association Test (IAT) untuk melihat potensi intoleransi dan radikalisme secara implisit. Kedua, menggunakan kuesioner self report dalam menilai intoleransi dan radikalisme serta faktor-faktor yang mempengaruhi intoleransi dan radikalisme.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement