Selasa 18 Jul 2017 14:23 WIB

Muslim Australia Lakukan Kampanye Perangi Islamofobia

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Agus Yulianto
Beberapa Muslimah yang tinggal di Australia.
Foto: SBS.com
Beberapa Muslimah yang tinggal di Australia.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY - Komunitas Muslim Australia, Muslim Down Under, melakukan kampanye unik untuk memerangi Islamophobia. Mereka menawarkan masyarakat untuk mengobrol santai bersama Muslim sambil menyantap kue dan kopi.

Komunitas yang menaungi Muslim di seluruh Australia ini bersedia menjawab semua pertanyaan yang diajukan masyarakat luas. Masyarakat bisa mengikuti kampanye ini dengan mendaftar melalui situs resmi.

Mohammed Atae Rabbi Hadi, imam masjid Baitul Huda di Marsden Park Sydney, yang juga juru bicara Muslim Down Under, mengatakan, kampanye tersebut dirancang untuk mengatasi kesalahan informasi tentang Islam. Kampanye juga dilakukan untuk memerangi ekstremisme yang mengatasnamakan Islam.

"Mengapa Anda tidak bertemu dengan seorang Muslim Australia dan mengenal mereka? Anda bisa melihat begitu banyak kesamaan," ujar Hadi, dikutip The Age.

Kelompok ini, sebelumnya telah menjalankan sesi tanya-jawab di kampus Parramatta dan Lithgow di Western Sydney University. Hadi menjelaskan, sebagian besar dari masyarakat tertarik pada sejarah dan teologi Islam, sedangkan beberapa ada juga yang menanyakan Islam berdasarkan apa yang mereka lihat di televisi.

"Mereka bertanya, apakah Islam benar-benar agama yang kejam? Jika tidak, mengapa terjadi kekerasan? Apa arti jihad?" ungkap Hadi.

Konsep kampanye "mengobrol" dengan seorang Muslim bukanlah hal baru. Muslims for Progressive Value, kelompok Muslim lokal yang berbasis di Canberra juga sering mengadakan sejumlah sesi tanya-jawab tahun ini.

Najm Sehar, koordinator nasional Muslims Down Under, mengatakan, ia selalu memiliki pengalaman positif dengan masyarakat sekitar. Ibu dua anak ini mengatakan, orang-orang selalu tersenyum kepadanya meski mereka tahu bahwa ia adalah seorang Muslim.

"Sejujurnya, insiden 9/11 terjadi saat saya duduk di bangku SMA, selama tujuh tahun saya menghabiskan perjalanan dari daerah pinggiran barat ke Sydney untuk belajar. Tapi Saya hanya mengalami satu kejadian Islamofobia saat berada di sekolah," kata dia.

Ia sangat menghargai pentingnya membicarakan kasus serangan terkait Islamofobia. Sehar mengatakan, fokus pada aspek negatif terkait interaksi antara Muslim dan komunitas lokal, dapat membuat umat Islam takut terhadap orang-orang di sekitar mereka.

Hubungan antara Muslim Australia dan masyarakat lokal menjadi sorotan pekan ini, setelah Charles Sturt University memberikan hasil penelitian baru kepada Islamophobia Register of Australia. Penelitian tersebut menganalsis 243 laporan terverifikasi yang diambil dari September 2014 sampai Desember 2015.

Mereka menemukan, wanita sangat sering dijadikan target serangan Islamofobia. Sebanyak 79 persen dari laporan-laporan serangan itu korbannya adalah wanita.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement