Kamis 16 Jul 2015 10:56 WIB

Saatnya Remaja Muslim Kembali Mencintai Masjid

Sejumlah peserta mengikuti pelatihan fotografi di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Pelatihan ini diadakan oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa (RISKA).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Sejumlah peserta mengikuti pelatihan fotografi di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Pelatihan ini diadakan oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa (RISKA).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menginginkan remaja Muslim kembali lebih mencintai kegiatan di masjid.

Pesan tersebut disampaikan melalui  Pimpinan Pusat (PP) Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Dewan Masjid Indonesia (DMI) beberapa waktu lalu.

“PRIMA DMI harus mengajak para remaja untuk kembali mencintai masjid dengan beribadah dan beraktivitas di dalam masjid, khususnya remaja di kota-kota besar seperti Jakarta. Kalau program ini berhail, sudah luar biasa bagi PRIMA DMI,” tutur Mensos dilansir dari website dmi.or.id, Kamis (16/7).

Khofifah pun mengingatkan kembali PP PRIMA DMI untuk tetap menjaga etika pergaulan dalam Islam antarremaja putra dan putri. “Jangan sampai kegiatan remaja masjid justru mengabaikan etika pergaulan dalam Islam,” tegasnya.

Penerapannya seperti dalam kegiatan Sahur on The Road (SOTR) di beberapa tempat di Jakarta sering mengabaikan aspek etika pergaulan dalam Islam.

“Misalnya, remaja Islam yang tidak menutup aurat dan suara kendaraan yang sering mengganggu dalam kegiatan SOTR itu,” paparnya.

Mensos juga mencontohkan beberapa organisasi remaja masjid yang sudah  berjalan baik di Jakarta seperti Remaja Islam Masjid Al-Falah di Surabaya, serta Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) dan Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa (RISKA) di Jakarta.

Dalam pertemuan yang berlangsung ramah dan hangat ini, Ketua Umum PP PRIMA DMI, Muhammad Hanif Alusi menjelaskan, cita-cita PRIMA DMI untuk mengembalikan peran dan fungsi masjid sebagai pusat peradaban dan aktivitas umat Islam.

“Masjid jangan hanya dimaknai sebagai sekedar tempat ibadah wajib (mahdah) umat Islam, tetapi hendaknya menjadi tempat ibadah sunnah dan mu’amalah (ghoiru mahdah) bagi umat Islam, seperti aktivitas sosial, ekonomi dan budaya,” jelas Hanif.

Menurutnya, masjid dapat menjadi benteng bagi remaja Muslim dari perilaku menyimpang dan maksiat seperti penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas serta tindakan kriminal lainnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement