Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Zeane: Belasan Tahun Melawan Pelecehan dan Penghinaan Karena Berjilbab

Kamis 27 Mar 2014 04:31 WIB

Rep: C65/ Red: Taufik Rachman

Bendera Inggris

Bendera Inggris

REPUBLIKA.CO.ID,BRISTOL—Kelly Zeane memeluk Islam di usia 18 tahun , di saat gadis Inggris lainnya tidak ingin mendapat penghinaan dan penyerangan karena menjadi seorang Muslim.

"Saya masuk Islam 19 tahun yang lalu. Saya dibesarkan di Bedminster dan selama sepuluh tahun terakhir itu memiliki hal buruk, " ungkap Kelly Ziane (36) pada Bristol Post, Rabu (26/3).

"Saya tidak memiliki cukup jari untuk menghitung  jumlah insiden dengan tangan saya.Hal ini sampai ke tahap di mana Anda tidak melihat titik dalam melaporkan segala sesuatu yang terjadi pada Anda. Saya tahu saya harus, dan saya akan mendorong semua orang untuk melaporkan kejahatan, kebencian, tidak peduli seberapa kecil itu," kata dia.

Penderitaan Ziane di Bristol County dimulai pada usia 18 tahun ketika ia memutuskan untuk kembali ke Islam, pelecehan rasial meningkat setelah ia mengambil keputusan untuk mengenakan jilbab atau hijab.

Orang Bristol kulit putih ini merupakan mantan Kristiani yang memutuskan untuk ke Islam setelah menghadiri sesi agama tentang iman di Newport, 19 tahun yang lalu."Saya adalah seorang Kristen dan mencari agama yang tepat untuk saya," kata Ziane.

"Saya keluar dari pertemuan tersebut dan mengetahui Islam. Sejak saat itu agama saya telah menjadi bagian besar dari hidup saya," ujar dia.

Mengingat pengalamannya , dia  berkata, "Saya memiliki bermacam reaksi ketika saya bertaubat, saya menemukan orang-orang yang memiliki reaksi negatif yang tidak benar-benar tahu tentang Islam. Tapi saya juga punya banyak dukungan. Saya masih punya teman-teman saat remaja dulu," ujar dia.

Ziane memutuskan untuk berbicara tentang pengalamannya menjadi seorang Muslim kulit putih di Bristol setelah ada pernyataan polisi yang menyangkal kejahatan rasial di kota ini.

"Saya melihat berita malam, tentang wanita Muslim yang diserang di Poundstretcher di East Street , dan ada seorang polisi mengatakan insiden rasis yang sangat jarang terjadi di Bristol," kata Ziane .

Tinggal di Bristol, Muslim kulit putih dengan tiga anak ini mengaku tidak bisa mengingat jumlah serangan rasial yang ia hadapi hanya karena imannya.

"Penghinaan digunakan untuk mengganggu saya, tapi selama bertahun-tahun jika Anda terbiasa untuk mengurung diri dan membawanya bersama hidup Anda. Jika Anda membiarkan hal itu terjadi, Anda akan berakhir dengan penuh kebencian terhadap semua orang ," kata Ziane.

"Anda harus memiliki kekuatan, jika tidak Anda mungkin akan berakhir dengan pikiran aku tidak bisa melakukan ini, itu bukan untuk saya,"

Selama bertahun-tahun, terjadi bermacam pelecehan, dari yang meludah hingga seorang pria yang mencoba untuk menarik hijab saya ketika dalam perjalanan pulang bekerja, yang disebut 'Paki' dan 'raghead' oleh perempuan di toko-toko .

Dalam suatu kejadian, seorang pengemudi mobil mempercepat lajunya menuju Ziane dan anak-anaknya, menakuti keluarga kecil yang menyeberang jalan tersebut.

Selain itu, pengemudi, yang hanya didakwa dengan pelanggaran mengemudi itu diberikan poin penalti dan berteriak pada keluarga Muslim, menyebut ibu 'paki' .

Setelah kejadian itu putrinya yang berusia 18  bulan mulai meniru orang itu, mengulangi cercaan tersebut .

Dalam kasus lain, ibu Bedminster memindahkan anak-anaknya ke sekolah dasar lain setelah disiksa oleh wali murid lain di Sekolah tanpa ada tanggapan dari pihak sekolah.

"Sejujurnya, saya tidak berpikir ini tentang warna kulit saya - saya pikir itu murni karena saya mengenakan hijab.Saya sering merasa jika saya merupakan orang Suriah, karena saya memiliki warna kulit yang adil dan saya seorang Muslim. Tapi saya juga pernah disebut orang  Somalia dan saya belum pernah melihat orang Somalia berkulit putih," katanya.

Menurut Muslim 36 tahun ini, beberapa faktor ikut berkontribusi terhadap sentimen anti -Muslim yang berkembang di Inggris .

"Saya pikir itu adalah kombinasi dari cerita negatif di media tentang Muslim, insiden seperti pembunuhan prajurit di London ( Lee Rigby ) dan berita internasional seperti 9/11 . Setelah hal-hal seperti itu, kondisi benar-benar menjadi tegang , " kata Ziane.

Tidak seperti Ziane yang menghadapi kekerasan setiap hari, suaminya,  Abdelkadir Aljazair nyaris tak dapat mengingat dua insiden di mana ia pernah mengalami pelecehan verbal.Meskipun mendengar cerita Ziane, para pejabat Bedminster bersikeras mengaku bahwa daerah ini memiliki tingkat kejahatan dan kebencian yang rendah.

"Itu bukan untuk mengatakan mungkin ada insiden lain tetapi tidak dibawa ke perhatian saya," kata Colin Smith, Salah satu Dewan Bedminster sejak 2007.

"Lingkungan saya cukup besar dan saya bisa jujur mengatakan tidak ada sikap negatif yang signifikan terhadap etnis minoritas dan insiden publik sangatlah langka, " ujar Smith.

Mendorong korban kejahatan kebencian untuk melaporkan insiden, Hollie - Marie Bone, selaku juru bicara polisi mengatakan,  " Setiap laporan jenis kejahatan rasial ditanggapi dengan sangat serius dan akan selalu diusut tuntas, "

"Kami bekerja keras untuk memastikan korban kejahatan rasial ras memiliki kepercayaan diri untuk maju dan melaporkan kejadian tersebut kepada kami .

"Melakukan hubungan baik dengan organisasi-organisasi seperti SARI [Stand Against Racism and Inequality] dan lembaga lain telah meningkatkan jumlah pelaporan kejahatan rasial," ungkap dia. Inggris adalah rumah bagi minoritas Muslim yang jumlahnya hampir 2,7 juta .

Sebuah laporan yang disusun dari keluhan MAMA Helpline selama tahun 2012 menemukan bahwa perempuan merupakan korban utama dari serangan rasial. Ditemukan bahwa dari 630 insiden rasial yang terjadi pada 2012, tercatat 58 persen dari korban adalah perempuan.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sebagian besar serangan fisik yang terjadi di jalanan, menjadikan perempuan berpakaian Islam sebagai target mereka. (c65)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA