Jumat 07 Jun 2019 12:12 WIB

Kisah Jin yang Masuk Islam

ketika mendengar firman Allah dari lisan Rasulullah, tergugahlah hati para jin.

Gurun pasir.
Foto: Wordpress.com
Gurun pasir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Alkisah, serombongan jin tengah melakukan perjalanan menuju Tihamah, sebuah kawasan di garis pantai Laut Merah, Arab Saudi. Mereka berangkat dari rumah-rumah mereka di Nasibain, sebuah wilayah yang terkenal sebagai tempat tinggal para jin. Lokasinya di sekitar perbatasan antara Irak dan Suriah. Di antara rombongan tersebut, terdapat jin yang berperan sebagai penasihat. Jika di dunia manusia maka ia berperan layaknya ulama atau dai.

Entah apa tujuan perjalanan mereka. Ada yang bilang, mereka sekadar melakukan safar. Sebagian lain mengatakan, mereka terbiasa melakukan perjalanan seperti halnya manusia. Yang lain bilang, mereka mencari tahu siapa yang telah menutup rahasia langit. Mengingat pascadiutusnya Rasulullah, rahasia langit dijaga malaikat dari curi dengar para jin. Apa pun tujuan mereka, perjalanan tersebut menjadi sejarah besar bagi kaum jin. 

Jumlah mereka pun tak jelas angkanya. Dikisahkan ada sembilan jin. Lain kisah mengatakan hanya tujuh jin dalam rombongan tersebut. Terlepas dari jumlah tersebut, ada satu jin yang merupakan sang ulama atau juru dakwah di kalangan kaumnya. Ada satu jin pula yang bernama Zauba'ah. Mungkin dialah sang ulama jin tersebut.

Di tengah perjalanan, tepatnya di kawasan Nakhla Saudi, para jin tiba-tiba mendengar sesuatu yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. “Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?!” Sebuah ayat Alquran yang dibacakan dari surah Ar Rahman menarik perhatian mereka. Mendengarnya, merindinglah tubuh-tubuh mereka. Serta merta, mereka mendekati sumber suara. 

Ternyata seorang yang mulia tengah menjadi imam shalat yang dimakmumi sekumpulan manusia. Ialah Rasulullah. Saat itu Rasulullah dan para sahabat tengah menunaikan shalat Subuh. Rasulullah membaca surah Ar Rahman saat memimpin jamah shalat. Para jin tersebut pun kemudian ikut bergabung dan duduk di belakang manusia. Mereka ingin mendengarkan ayat-ayat yang dilantunkan sang nabiyullah.

“Diamlah, perhatikan bacaannya,” sang ulama jin meminta rombongan diam untuk mendengar bacaan Rasulullah. Rombongan jin yang tadinya berbisik-bisik ribut itu pun kemudian hening menghayati ayat Alquran. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement