Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Mengenal Gelar Amirul Mukiminin

Senin 27 Mei 2019 12:12 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Sejarah Islam mengenal sejumlah gelar kenegaraan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejarah Islam mengenal sejumlah gelar kenegaraan sebagai bentuk penghormatan sekaligus identitas bagi seorang pemimpin. Salah satu gelar yang populer dipakai sepanjang sejarah peradaban Islam, yaitu Amirul Mukminin. 

Mengutip Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern karya cendekiawan terkemuka John L Esposito, berdasarkan analisis sejumlah sejarawan di abad pertengahan, istilah yang berarti pemimpin orang mukmin itu digunakan untuk otoritas pemberi komando dan wewenang  kepada pasukan Muslim selama periode awal penaklukan. Baik selama masa Rasulullah SAW masih hidup ataupun usai wafat. 

Merujuk riwayat at-Thabari dan al-Ya’qubi, Umar bin Khatab adalah khalifah pertama yang menyematkan gelar ini kepada dirinya. Dari segi legalitas, memang tidak ada  anjuran kuat pemakian gelar Amirul Mukminin. Baik dari Alquran ataupun hadis. Hanya saja, sejumlah ayat Alquran secara tersirat mengutarakan keberadaan pemegang otoritas al-amr. “Mereka di antara kamu yang diberi otoritas.” (QS an-Nisaa [4]: 58). 

Ketika Dinasti Umayyah berkuasa, gelar ini memiliki muatan ideologis yang cukup kental. Gelar tersebut bahkan tertera di mata koin logam, berdampingan dengan lafal  basmalah dan tanggal. Pola yang sama juga digunakan oleh beberapa negara Islam masa awal.  

Mata uang logam Arab-Sasaniyyah awal menerakan kalimat “Muawiyah Amirul Mukminin” yang bertuliskan Pahlavi meskipun tampaknya terjadi perubahan pemakian tulisan Arab di mata uang logam pada akhir abad ketujuh. Pada akhir abad itu, ada dua nama tokoh pesaing Umayyah, yakni Abdullah bin Zubair dan Abdullah Ibn Qathari, salah seorang pimpinan Khawarij. 

Istilah Amirul Mukminin lebih masyhur dipakai ketimbang sejumlah padanannya, seperti khalifah dan imam. Istilah khalifah, dinilai lebih kompleks lantaran makna khalifah bisa berarti pengganti Nabi SAW dan “wakil” Allah di muka bumi. Sedangkan imam, lebih mempunya konotasi otoritas religius.

Di kalangan Suni, gelar Amirul Mukminin menunjukkan klaim kekhalifahan. Ini seperti yang berlaku di era Umayyah dan Abbasiyah atau klaim otoritas politik otonom atas suatu wilayah di dunia Islam, sebagaimana digunakan oleh penguasa-penguasa Umayah di Spanyol, berawal dari Abdurrahman III pada 928 M. 

Dalam tradisi Sekte Syiah Ismailiyah, gelar Amirul Mukminin dianggap sebagi klaim tandingan terhadap kedaulatan universal kekhalifahan. Di Yaman pada abad kesepuluh, pendiri paham Zaidiyahm yang terguling pada 1962 juga mengklaim gelar tersebut. Pada umumnya, di internal Syiah gelar ini mencerminkan konsepsi setiap sekte itu terhadap otoritas. Syiah Dua Belas, misalnya, menyandangkan gelar tersebut kepada Ali bin Abi Thalib 

Pemakaian gelar Amirul Mukminin lambat laun kian tergerus. Ini berbeda dengan gelar khalifah. Di Timur Tengah, fenomena pergeseran pemakaian gelar Amirul Mukminin terjadi setelah serangan Mongol pada abad ke-13. Pemimpin Dinasti Usmaniyah bahkan di puncak kejayaannya pada abad 16, tidak mengklaim secara formal gelar itu. 

Akan tetapi, gelar ini masih memiliki warna ideologisnya. Terutama, di kalangan Muslim Afrika Barat, seperti yang berlaku di gerakan religius Berber, sebuah komunitas pergerakan yang didirikan dan dipimpin langsung oleh Nashiruddin. Ia mendeklarasikan diri sebagai imam sekaligus Amirul Mukminin. Melalui gerakan mesianik dan reformis militan, ia menggerakkkan pengikutnya melawan suku Arab lokal. Pada 1677 gerakan ini tumbang menyusul kematian penggawanya pada 1974.     

 

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA