Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Pesona Isfahan

Kamis 18 Apr 2019 13:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Lotfollah di Isfahan Iran

Masjid Lotfollah di Isfahan Iran

Foto: wikipedia.org
Isfahan pernah menjadi salah satu kota terbesar di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Terletak sekitar 340 km selatan Teheran, Isfahan yang merupakan kota terbesar ketiga di Iran, dihuni oleh sekitar 1,5 juta orang (menurut sensus 2006). Secara geografis, kota ini membentang di dataran Zayandeh-Rud yang subur, di kaki pegunungan Zagros. Alhasil, kota ini menikmati iklim yang nyaman dan musim yang teratur. 

Di masa lalu, Isfahan pernah menjadi salah satu kota terbesar di dunia. Kehadiran para pedagang dan seniman Eropa, juga diplomat yang ingin beraliansi dengan Persia untuk menghadapi bangsa Ottoman, membuat kota ini layaknya sebuah kosmopolitan. Bahkan, sebelum Paris menjadi kota mode dunia, Isfahan telah menjadi pusat perkembangan mode dengan bursa tekstil dan karpet Persia yang tersohor. 

Pada masa pemerintahan Dinasti Safawi di abad ke-16, kota ini dijadikan ibu kota Persia. Hingga kini pun, jejak-jejak kejayaan Isfa han masih ada bahkan menjadi salah satu daya tarik kota ini. Misalnya, istana, masjid, madrasah, menara, dan bangunan berarsitektur Islam lainnya. Isfahan juga memiliki banyak boulevard yang indah dan lebar, juga jembatan-jembatan beratap yang sedap dipandang mata. Kini, mari kita sambangi beberapa tempat menarik itu. 

Masjid Imam

Bangunan ini pun masuk dalam daftar situs warisan dunia versi UNESCO. Dibangun pada abad ke-17, masjid ini adalah representasi arsitektur Islam-Persia yang paling terkenal di Iran. Semula, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Shah, mengacu kepada penguasa Safawi yang memerintah Isfahan pada masa itu, Sultan Shah Abbas I. Shah Abbas I merupakan kepala negara yang getol melakukan pembangunan fisik Kota Isfahan. Berdiri di atas lahan seluas 12.264 meter persegi, masjid ini dirancang oleh Ali Esfahani. Konon, proses pembangunannya memakan waktu hingga 20 tahun dengan menghabiskan 18 juta batu-bata dan 472.500 keping keramik. 

Masjid Imam juga menjadi salah satu bukti kecanggihan perkembangan teknologi arsitektur Islam pada abad pertengahan. Betapa tidak, di abad ke-17 itu, sang arsitek sudah berinisia tif membuat bangunan tahan gempa. Rupanya, Ali Esfahani memahami benar bahwa Iran termasuk wilayah rawan gempa. Berkat konstruksi tahan gampa rancangan Ali Esfahani, masjid ini tetap tegak berdiri selama berabad-abad. 

Istana Ali Qapu 

Mahakarya arsitektur Islam juga terlihat di beberapa istana. Salah satunya adalah Istana Ali Qapu, yang dibangun oleh Sultan Shah Abbas I pada awal abad ke-17. Istana ini memiliki tujuh lantai, dengan masing-masing lantai terhubung oleh tangga spiral berukir.

Di lantai enam, terdapat ruang musik yang dipercantik oleh lukisan dinding karya Reza Abassi. Pelukis ternama asal Iran ini mencoretkan aneka motif mulai dari bunga hingga burung. Sementara lantai tiga, yang memiliki sebuah aula besar, biasa digunakan oleh Sultan untuk menjamu dan menghibur tamu-tamu resminya. 

Istana ini pernah beberapa kali menjalani renovasi dan penyempurnaan. Sultan Shah Abbas II, misalnya, berupaya memperindah istana ini dengan menambah sejumlah elemen dekoratif, di antaranya pada aula besar di lantai tiga. Renovasi juga dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Shah Hussein, penguasa terakhir Dinasti Safawi. n 

Lapangan Naqsh-e Jahan

Berada di jantung kota, lapangan Naqsh-e Jahan adalah titik yang tepat untuk mulai menjelajah Isfahan. Dari segi ukuran, ini adalah lapangan terbesar kedua di dunia setelah Lapangan Tiananmen di Beijing, Cina. 

Menyandang predikat sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO, alun-alun ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan dari masa Dinasti Safawi. Misalnya, Masjid Syah yang ada di sisi selatan, Istana Ali Qapu di sebelah barat, Masjid Syekh Luthfallah di bagian timur, dan Bazar Isfahan di sebelah utara lapangan. Sejarah mencatat, lapangan ini dibangun pada masa Sultan Shah Abbas I, penguasa Dinasti Safawi yang paling terkenal. Kala itu, lapangan ini biasa digunakan untuk menggelar perayaan, pertandingan polo, drama, dan parade militer. 

sumber : IslamDigest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA