Senin 25 Mar 2019 22:59 WIB

Diplomasi Ratu Elizabeth I dengan Negeri-negeri Muslim

Ratu Elizabeth I menjalin hubungan Inggris dengan sejumlah kesultanan Muslim.

(Ilustrasi) Ratu Elizabeth I
Foto: tangkapan layar wikipedia
(Ilustrasi) Ratu Elizabeth I

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Greg Bak dalam disertasinya untuk Dalhousie University pada tahun 2000 membahas hubungan Inggris dengan Dunia Islam periode 1575-1625. Pada zaman itu, pengaruh Ratu Elizabeth I begitu terasa. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Inggris mendukung pemberontak-pemberontak Protestan di Eropa Daratan, utamanya Prancis, serta berseteru dengan Spanyol di lautan.

Masalahnya kemudian, Inggris perlu menjaga lancarnya arus perdagangan dari dan menuju negerinya di atas sentimen agama. Upaya ini pun didukung dengan gaya kepemimpinan Ratu Elizabeth I yang tak terlalu ortodoks dalam soal agama.

Baca Juga

Selain itu, lanjut Bak, sejak abad ke-16 telah muncul konsep dominium atau kedaulatan kerajaan.

Maknanya, ratu Inggris selaku seorang pemimpin beragama Kristen (Protestan) dinilai berhak mengadakan aliansi dan perdagangan dengan Muslim. Bahkan, masih menurut konsep yang sama, perang melawan kesultanan-kesultanan yang hanya dilatari perbedaan agama tidak dapat dibenarkan.

Oleh karena itu, Inggris sejak abad ke-16 cenderung tanpa beban dalam mengupayakan kerja sama dagang dan diplomasi dengan Muslim. Apalagi, usaha itu terbilang masuk akal supaya, sekali lagi, Inggris tidak kehilangan peran di Laut Tengah dan Asia.

Selain Maroko, dalam masa Ratu Elizabeth I Inggris juga menguatkan hubungan komersial dan politik dengan Ottoman. Namun, hal ini cukup kontradiktif dengan kecenderungan anti-Ottoman sebagai warisan Perang Salib silam.

Agaknya, kerja sama Inggris dengan Ottoman lebih didasari sikap pragmatis, alih-alih ideologis. Bak menyebutkan, duta besar pertama Inggris untuk Ottoman, William Harborne, diutus ke Istanbul pada 1583. Ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian dagang antara kedua negeri itu tiga tahun sebelumnya.

Mitra dagang kedua negara, yakni Turkey Company, pada 1592 menjadi English Levant Company (ELC). Di sinilah kolaborasi antara urusan komersial dan politik dilembagakan. Dengan demikian, Harborne memiliki dua tugas sekaligus, yakni menjaga kelancaran perdagangan oleh  ELC dan mempromosikan kepentingan kerajaan Inggris.

Salah satu target politik Ratu Elizabeth I untuk dijembatani Harborne adalah meyakinkan sultan Ottoman untuk berkoalisi dengan Inggris demi menghadapi Spanyol. Sejak penyerangan Spanyol atas Inggris pada 1588, sang ratu menganggap penting persekutuan dengan negeri-negeri non-Katolik untuk menyurutkan dominasi Spanyol di laut.

Meskipun telah berupaya maksimal, Harborne pada akhirnya gagal mewujudkan keinginan ratu. Sedikit-banyak, kegagalan ini terjadi karena Seperti disimpulkan Bak dalam disertasinya, orang Inggris mengalami ambiguitas dalam memandang orang Islam Ottoman.

Di satu sisi, mereka masih menyimpan stereotipe atau bahkan kebencian warisan Perang Salib. Namun di sisi lain, beberapa catatan sejarah dari akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17 menyiratkan bahwa perspektif sinisme ini masih lentur. Sebab, Muslim pun kadangkala dipandang sebagai sesama manusia atau bahkan (bakal) sekutu Inggris, baik di bidang politik maupun niaga.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement