Selasa 26 Mar 2019 05:05 WIB

Iman tanpa Amal itu Hampa, Amal tanpa Iman Percuma

Ada saja Muslim yang hanya mengaku beriman, tapi lalai mengerjakan amal saleh.

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko
Orang-orang yang mendirikan shalat termasuk orang yang bertakwa.
Foto: Antara/Rahmad
Orang-orang yang mendirikan shalat termasuk orang yang bertakwa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Ada saja Muslim yang hanya mengaku beriman, tapi lalai menger jakan amal saleh. Padahal, jika memang benar-benar beriman, seharusnya melaksanakan ibadah dan amal kebaikan lainnya secara berkelanjutan.

Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, yang tidak akan memberatkan. Namun, bukan berarti penganutnya dapat menggampangkan urusan agama dengan alasan yang dibuat-buat sendiri.

Baca Juga

Dalam buku berjudul Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka menegaskan bahwa pertanda kosongnya jiwa serta binasa nya hati. Yaitu, ketika seorang Muslim sekadar mengaku beriman, tapi enggan mengerjakan amal saleh secara berkelanjutan.

Hal itu sesuai dengan kondisi sekarang. Keimanan hanya dijadikan 'topeng' untuk meraih keuntungan tertentu, seperti halnya dalam politik. Namun, untuk mengerjakan amal saleh mereka lalai.

Padahal, iman dan amal saleh merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena, apabila salah satunya hilang, kesungguhan menjalankan Islam menjadi tidak sempurna. Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma.

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR ath-Thabrani). Dalam karyanya ini, Buya Hamka menjelaskan tentang bagaimana seharusnya menempatkan porsi iman dan amal saleh secara tepat sesuai tuntunan syariat.

Bukti kita percaya kepada-Nya ten tu kita ikuti perintah-Nya. Kita mengikuti perintah-Nya adalah karena kita percaya, kata Buya Hamka. Pada zaman modern ini, sebagian masyarakat mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa shalat tidak harus berupa ritual ibadah.

Perempuan tidak harus menutup aurat, yang penting adalah menjaga hati, dan lain sebagainya. Anggapan semacam itu sangat bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Karena, Rasulullah sangat tekun melaksanakan ibadah dan amal saleh.

Saat mengerjakan shalat, kaki Rasulullah bahkan sampai bengkak. Uangnya pun tak pernah tersimpan lama di rumahnya karena langsung disedekahkan. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk teristimewa.

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi sehingga malaikat dan iblis pun disuruh sujud padanya. Sementara, manusianya sendiri justru banyak yang mengabaikan perintah-Nya.

Melihat fenomena semacam itu, Buya Hamka pun tergugah un tuk menyusun tulisan-tulisannya berke naan dengan keimanan yang lekat dengan amal saleh. Jika me ngaku Islam, menurut Hamka, umat sudah selayaknya menger jakan ibadah dan amal saleh lainnya.

Namun, sebaliknya amal saleh tanpa iman juga tidak dibenarkan dalam agama. Banyak orang yang kelihatan berbuat baik, padahal ia tak beriman. Ia banyak beramal, tapi hal yang dilakukannya tidak berlandaskan iman.

Padahal, Allah telah menegaskan dalam Alquran bahwasanya amal seseorang menjadi sia-sia jika mempersekutukan Allah dengan yang lain (Surah al-An'am ayat 88). Karena itu, umat mem butuhkan iman agar amal saleh nya diterima oleh Allah.

Menurut Buya Hamka, iman yang baik akan menimbulkan amal yang baik. Sedangkan, amal yang baik ti dak akan ada kalau imannya ti dak ada. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuat an tanpa iman. (HR ath- Thab rani).

Hamka juga mengatakan, suatu amal yang timbul bukan dari iman pada hakikatnya adalah menipu diri sendiri. Mengerjakan kebaikan tidak dari hati adalah dusta. Jika manusia menegakkan kebaikan tidak dari iman, akan telantar di tengah jalan. Lantaran tidak ada semangat suci yang men dorongnya.

Jika seseorang telah mengakui percaya kepada Allah dan rasul- Nya, niscaya kepercayaan itu akan mendorongnya berbuat baik. Tujuannya tentu untuk menggapai ridha Allah. Hubungan antara iman dan amal adalah antara budi dan perangai.

Suatu budi yang tinggi hendaklah dilatih terus agar menjadi perangai dan kebiasaan. Islam dan iman yang sebe narnya adalah pertalian di antara iman dan amal saleh. Menurut Buya Hamka, tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang hanya menyebut perkara iman.

Pasti diikuti dengan menyebut amal saleh. Sumber konten Buku ini disusun dari karyakarya Buya Hamka yang pernah diterbitkan dalam majalah ataupun dari karangannya yang pernah disampaikan dalam seminar.

Tidak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa nasihat Buya Hamka yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional sekitar 1975. Buku ini juga mencantumkan ayat Alquran ataupun hadis untuk memperkuat tema pembahasan.

Hal ini menunjukkan bahwa Buya Hamka dalam menyampaikan pandangannya selalu berlandaskan kitab suci dan sabda nabi. Pandangan Buya Hamka dalam buku penuh dengan makna yang dapat menggugah kesadaran nurani umat Islam. Walaupun, penyampaian bahasa dalam buku harus sedikit diulang-ulang untuk memahaminya.

Bagi umat yang masih menganggap bahwa beribadah kepada- Nya tidaklah penting, Buya Hamka menyarankan agar berkumpul dengan sahabat yang bisa mengantarkan pada jalan yang diridhai-Nya. Teladanilah sunah Rasulullah SAW.

Lawanlah segala ben tuk pertentangan hati dari hal buruk yang hanya membawa pada kesesatan dunia dan akhirat. Selain itu, tekanlah nafsu dalam mengejar nikmat dunia yang fana. Jangan hanya mendamba surga tanpa bersusah payah menggapai ridha-Nya. Ingatlah selalu bahwa perintah maupun larangan-Nya adalah kebaikan bagi umat Islam itu sendiri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement