Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Kisah Sahabat yang Pahlawan Uhud, Abdullah Bin Amr (2)

Rabu 20 Mar 2019 15:57 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Lokasi Perang Badar (ilustrasi)

Lokasi Perang Badar (ilustrasi)

Foto: wikipedia
Kepada Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Amr menceritakan tentang kabilahnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abdullah bin Amr bin Haram dikenal sebagai sosok yang tidak pernah absen dalam setiap jihad. Sebelum terjun di Perang Uhud, Abdullah merupakan mujahid Perang Badar. Sebuah riwayat menceritakan bagaimana dekatnya Abdullah dengan Rasulullah SAW menjelang perang tersebut.

Baca Juga

Saat itu, pasukan Muslim dan Rasulullah SAW menjelang tiba di medan perang Badar. Mereka pun melewati as-Suqya, sebuah sumur di Madinah. Bagi Abdullah, tempat ini tidak asing karena masih menjadi bagian dari kekuasaan kabilahnya.

Untuk itu, Abdullah meminta Rasulullah SAW agar bersedia singgah sebentar di sumur tersebut. “Sesungguhnya tempat ini adalah tempat tinggal kami, Bani Salimah. Pernah terjadi, di antara kami dan orang-orang Husaikah, sekelompok Yahudi, akan berperang. Maka kami memarkaskan orang-orang kami di sini. Kemudian, kami memeriksa, siapa saja di antara kami yang dapat memanggul senjata, maka dapat ikut berperang. Siapa saja yang belum mampu, maka kami memulangkannya,” tutur Abdullah kepada Nabi Muhammad SAW,

Intinya, dia mengisahkan latar belakang kepemilikan kabilahnya atas sumur as-Suqya.

“Kemudian, kami bergerak menuju lokasi kami berhadapan dengan Yahudi Husaikah. Kami banyak membunuh di antara mereka (memenangkan pertempuran). Maka, sampai hari ini orang-orang Yahudi lainnya tunduk kepada kami karena itu,” lanjutnya.

Abdullah menceritakan kisah itu semata-mata agar pasukan Muslim terinspirasi dengan semangat juang kabilahnya dalam melawan musuh, meskipun saat itu jumlah pasukan Muslim tidak sebanyak pasukan musyrik Quraisy.

Dengan singgah sebentar di sumur as-Suqya, Abdullah dapat mengenang kembali dan berdoa bahwa kemenangan yang sama juga akan terulang di Perang Badar. “Aku berharap, wahai Rasulullah, kita nanti akan bertemu dengan Quraisy lalu Allah memberikan kemenangan kepadamu atas mereka,” kata Abdullah.

Pada akhirnya, Allah meridhai pasukan Muslim di medan jihad Badar. Pasukan musyrik kocar-kacir dan gentar menghadapi keteguhan iman dan perjuangan umat Islam.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA