Kamis 14 Mar 2019 07:27 WIB

Tidak Selalu 'Dua Kurang Dua Sama dengan Nol'

Tidak selalu perbuatan yang tampaknya mengurangi kuantitas demikian adanya.

Ilustrasi Sedekah
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Ilustrasi Sedekah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam mengajarkan umatnya untuk memanfaatkan sebesar-besarnya kehidupan di dunia ini sebagai bekal menghadapi akhirat kelak. Dunia yang fana ini hanya sementara, sedangkan akhirat jauh lebih panjang masanya sehingga lebih bernilai untuk diperjuangkan.

Karena itu, hendaknya umat Rasulullah Muhammad SAW lebih perhitungan terhadap dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan diri yang telah dikerjakan, serta di saat yang sama tidak perhitungan atas amalan kebajikan.

Baca Juga

Sebab, kebaikan yang dilakukan atas dasar niat ikhlas--hanya mengharapkan ridha Allah SWT--itulah yang pantas menjadi bekal dalam menjalani kehidupan kelak.

Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para sahabatnya, seperti diriwayatkan oleh Ad-Dailami dan Ashfihani. "Rendah hati (tawadhu) itu tidak menambah seseorang melainkan ketinggian. Karena itu bertawadhulah, pasti Allah akan meninggikan derajatmu. Memberi maaf itu tidak menambahkan kepada seseorang kecuali kemuliaan. Karena itu, berilah pemaafan, maka pasti Allah akan memuliakan kamu.

Bersedekah tidak memengaruhi harta seseorang, melainkan akan semakin banyak jumlahnya. Karena itu, bersedekahlah, maka pasti Allah akan memberikan kasih sayang-Nya pada kalian semua."

Merendah di hadapan manusia ternyata dapat meninggikan derajat seseorang yang beriman dalam pandangan Allah SWT. Memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain justru bisa memuliakan posisi di hadapan Allah SWT.

Hal lain, bersedekah ternyata tidak berarti mengurangi jatah rezeki. Rasulullah SAW telah menjelaskan, bersedekah ternyata dapat menjadi jalan bagi bertambahnya rezeki, baik dari segi kuantitas maupun kualitas (keberkahan).

Rumus dalam Islam tidak selalu "dua kurang dua sama dengan nol". Pengurangan harta yang diperuntukkan bagi kemaslahatan agama ini bisa menjadi jalan bertambahnya kebaikan.

Karena itu, penting sekali untuk memahami akhlak diri sebagai makhluk dan hamba-Nya. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan Thabrani, Baihaqi, dan Ibnu Abi ad-Dunya.

"Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah agar engkau menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiaya dirimu."

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement