Kamis 14 Mar 2019 00:07 WIB

Ketika Seorang Ulama Menerima Nasihat Perempuan

Ulama itu baru saja ditinggal wafat istrinya.

Sepasang Suami-Istri (ilustrasi)
Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Sepasang Suami-Istri (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebaikan bisa datang dari siapa saja, entah alim maupun orang awam. Sebab, Allah SWT menyampaikan rahmat dan hidayah bisa dari jalan mana saja yang dikehendaki-Nya. Hal itu menjadi hikmah dari kisah berikut, yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitab Muwaththa.

Kisah itu sendiri dituturkan Muhammad bin Ka'ab al-Qurzhi. Suatu ketika, di tengah Bani Israil ada seorang ulama yang kepakarannya dalam bidang agama diakui semua kalangan. Dia pun berakhlak mulia, sehingga sangat disegani.

Baca Juga

Pria alim itu juga memiliki seorang istri yang sangat dicintainya. Sang istri pun mencintainya dengan sepenuh hati. Allah SWT kemudian menakdirkan, si istri tadi meninggal dunia.

Betapa sedih hati sang ulama. Dia dirundung kesedihan yang teramat dalam, sampai-sampai memutuskan untuk mengurung diri di dalam kamar. Dia menolak ditemui siapa-siapa.

Ada seorang perempuan yang menerima kabar itu. Dia lantas mendatangi rumah sang alim. Di sana, sudah banyak orang-orang yang berkerumun, meminta ulama tersebut untuk menyudahi kesedihannya dan kembali membuka majelis ilmu.

Mereka tampak sudah putus asa, barangkali bingung dengan apa lagi bisa membujuk sang ulama. Sementara orang-orang itu pergi, perempuan tadi tetap berada di depan pintu rumah alim tersebut.

"Aku harus menanyakan sesuatu kepada beliau," kata dia menjelaskan keperluannya kepada seorang sahabat sang ulama.

Maka sahabat itu berkata kepada ulama dari balik pintu, "Wahai, di sini ada seorang perempuan yang hendak bertemu kepadamu. Ingin menanyakan sesuatu hal."

Setelah dibujuk oleh sahabatnya, maka ulama tadi bersedia menemui perempuan tadi, yang telah begitu lama menunggu.

"Aku datang untuk meminta fatwa kepadamu tentang suatu kasus," kata perempuan ini.

"Katakanlah," ujar sang ulama.

"Aku telah meminjam suatu perhiasan dari seseorang. Setelah sekian lama, orang itu lantas memintaku untuk mengembalikan perhiasan itu. Apakah aku harus mengembalikannya?" tanya si perempuan.

"Tentu saja, demi Allah begitu," jelas sang ulama.

"Padahal, perhiasan itu sudah begitu lama ada padaku?" tanya perempuan lagi.

"Kau justru lebih harus lagi untuk segera mengembalikan perhiasan itu kepadanya, sebab sudah lama dia meminjamkannya kepadamu," tegas ulama itu.

"Wahai ulama, semoga Allah merahmatimu. Maka demikianlah. Apakah engkau pantas bersedih hati atas apa-apa yang Allah pinjamkan kepadamu? Lalu setelah Allah mengambilnya darimu, engkau terus bersedih, padahal Allah lebih berhak atas dirinya?" tutur perempuan ini.

Sadarlah ulama ini setelah menyimak penuturannya. Dia pun menyadari kekeliruannya yang terlampau berduka, sehingga seperti tidak terima akan takdir Allah yang mewafatkan istrinya tercinta.

Ulama itu pun akhirnya ikhlas melepas kepergian istrinya.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement