Sabtu 20 Jan 2018 13:04 WIB

Legasi Kesultanan Delhi

Banyak kesultanan Islam terancam bayang-bayang penyerbuan pasukan Mongol.

Rep: hasanul rizqa/ Red: Muhammad Subarkah
Pasukan kesultnan Delhi.
Foto: wikipedia.com
Pasukan kesultnan Delhi.

REPUBLIKA.CO.ID,  Kesultanan Delhi (1206-1526) dapat dikatakan meletakkan dasar pengaruh Islam dalam keanekaragaman budaya di Anak Benua India. Arshad Islam menjelaskan hal itu di dalam artikelnya, The Civilizational Role of Islam in the Indian Subcontinent: The Delhi sultanate (2017).

Sejak awal dekade 1200, banyak kesultanan Islam terancam bayang-bayang penyerbuan pasukan Mongol. Salah satunya adalah Khurasan yang saat itu menjadi pusat keunggulan dalam masa keemasan dunia Islam. Kota ini telah menghasilkan sederet ilmuwan besar Muslim. Sebut saja, Ibnu Sina (penulis al-Qanun fil al-Thib), al-Farabi (filsuf Muslim pertama), al-Biruni (pakar astronomi), al-Khwarizmi (penemu algoritma), Abu Masyar al-Balkhi (pakar astronomi), al-Farghani (astronom), Abu al-Wafa Buzjani (perintis trigonometri), Nashiruddin al-Tusi (astronom), dan Syarifuddin al-Tusi (pakar matematika). Setelah Mongol menguasai Khurasan, banyak sarjana Muslim yang hijrah ke wilayah Dinasti Mamluk di India utara.

Penguasa Dinasti Mamluk saat itu, Syamsuddin Iltutmish, menyambut baik kedatangan para ilmuwan Muslim dari negeri-negeri yang diserbu Mongol. Madrasah Firoziyya yang didirikannya di Uch dipimpin sejarawan terkemuka asal Persia, Minhaj al-Siraj. Sementara itu, saingan Iltutmish, Nashiruddin Qubacha, tampaknya tidak mau kalah. Gubernur Multan itu sejak 1210 menganggap dirinya independen dari Dinasti Mamluk. Di Multan, dia mendirikan madrasah tandingan, yang juga mendatangkan para ilmuwan dan sastrawan Muslim terkemuka dari pelbagai penjuru. Kini, Uch dan Multan menjadi bagian dari Provinsi Punjab, Pakistan.

Geliat ilmu pengetahuan di Kesultanan Delhi sempat mengalami masa vakum semasa Dinasti Khalji berkuasa. Barulah pada era Sultan Firuz Shah dari Dinasti Tughluq, terasa lagi perkembangan yang signifikan. Sang sultan membangun banyak infrastruktur, semisal jembatan, sekolah, dan masjid, untuk menunjang kesejahteraan rakyatnya. Selain itu, cukup banyak monumen peringatan Tughluq dibangun.

Para sejarawan berpendapat, gaya arsitekturnya cukup khas bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan Hindu di India. Agaknya, monumen-monumen Tughluq ini lebih dipengaruhi seni bangunan pada Kompleks Qutb, peninggalan pendiri Kesultanan Delhi pada awal abad ke-12. Ciri-cirinya antara lain mirip sebuah benteng pertahanan dengan kubah berbentuk setengah bola di atasnya. Salah satu monumen ini berdiri di atas makam pendiri Dinasti Tughluq, Sultan Ghiyatsuddin, di Delhi. Monumen lainnya juga terdapat di Multan (Pakistan).

Di luar bidang ilmu pengetahuan (sains, sastra, atau arsitektur), juga terjadi dinamika perkembangan tasawuf yang signifikan. Ada empat tarekat yang utama dalam dunia Islam hingga era modern kini, yakni Chistiyah, Suhrawardiyyah, Qadiriyyah, dan Naqsyabandiyyah. Dua yang tersebut di awal berkembang pesat di India dalam masa Kesultanan Delhi. Tidak seperti pendekatan administrasi sultan, cara-cara sufi menyebarkan Islam cenderung mengutamakan harmoni da interaksi yang berangsur-angsur dengan masyarakat lokal.

Tarekat Chistiyah, misalnya, menjadi begitu populer di tengah masyarakat India. Pusat-pusat perkumpulannya tersebar di seperti Ajmer (Rajasthan), Uttar Pradesh, Bihar, Bengal, Assam, dan Dakka.

Sementara itu, tarekat Suhrawardiyyah juga berkembang pesat. Pendirinya, Abu al-Najib Suhrawardi (wafat 1168) merupakan kelahiran Persia yang kemudian mengajar di Baghdad. Ajarannya kemudian dilanjutkan keponakannya, Syahabuddin Abu Hafs. Dia selanjutnya mengarahkan dua orang muridnya, Bahauddin Zakariya dan Syed Jalaluddin Surkfash Bukhari. Zakariya diperintahkannya untuk mendirikan pusat tarekat di Multan, sedangkan Bukhari di Uch. Bukhari kemudian dekat dengan penguasa Dinasti Mamluk, Syamsuddin Iltutmish, yang menggelarinya Syaikh al-Islam. Bahkan, Bukhari pernah menjadi penengah antara penguasa Mongol yang hendak menyerbu India utara dan pasukan Muslim.

Akhirnya, tarekat Suhrawardiyyah menjadi populer bukan hanya di Uch atau Multan, melainkan juga Punjab, Kashmir, dan Delhi. Seiring waktu, para sufi mulai berbondong-bondong datang ke Maner Syarif, sebuah kota di lembah Sungai Gangga. Sampai saat ini, kota yang termasuk negara-bagian Bihar, India, itu menjadi pusat pengajaran tarekat Suhrawardiyyah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement