Senin, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019

Senin, 11 Rajab 1440 / 18 Maret 2019

Syekh Hamzah Fansuri, Bapak Bahasa dan Sastra Melayu

Selasa 12 Feb 2019 06:30 WIB

Red: Hasanul Rizqa

hamzah fansuri

Foto:
Prof Abdul Hadi WM menggelarinya Bapak Bahasa dan Sastra Melayu

Sesudah Tiadanya

Sedikit sekali bukti-bukti yang valid tentang kapan waktu wafatnya Syekh Hamzah Fansuri. Mengikuti pendapat Syed Naguib (1966), dapatlah dikira bahwa penyair tersebut wafat pada masa awal kekuasaan Sultan Iskandar Muda di Aceh.

Dalam konteks itu, salah seorang muridnya, Syamsuddin al-Sumatrani, mendapatkan kedudukan terhormat di Istana Aceh di bawah pemerintahan sultan tersebut. Hanya saja, riak-riak politik kemudian terjadi.

Sesudah Sultan Iskandar Muda lengser, naiklah Sultan Iskandar Thani. Posisi Syamsuddin digantikan oleh Nururddin al-Raniri, pengarang Bustanul Salatin. Pada masa inilah, terjadi insiden pembakaran banyak kitab karangan Syamsuddin dan gurunya, Hamzah Fansuri.

Sebab, rezim saat itu menstampel keduanya sebagai penyebar aliran sesat. Menurut Abdul Hadi, pembakaran itu terjadi lantaran penguasa dan para pendukungnya belum membaca utuh karya-karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin, tetapi serta-merta mengambil kesimpulan.

“Jadi, belum lengkap membaca, kemudian mengatakan bahwa tasawuf yang diajarkan di dalam buku murid-murid Hamzah Fansuri itu adalah tasawuf sesat. Kemudian, dia mengeluarkan fatwa agar buku-buku karangan wujudiyah di Aceh itu dibakar,” ujar akademisi sekaligus penyair kelahiran Sumenep, Madura, itu ketika dihubungi Republika.co.id, akhir pekan lalu.

Walaupun begitu, legasi Hamzah Fansuri terbukti tidak lekang dimakan zaman. Pengaruh syair-syair dan pemikirannya tetap terasa hingga abad ke-20 dan seterusnya.

“Karena banyak buku yang masih selamat. Justru, tasawuf wujudiyah ini yang berkembang pesat, dihidupkan lagi di Aceh pada akhir abad ke-17 oleh Syekh Abdurrauf Singkil dan murid-muridnya. Kemudian, tersebar pula ke Pulau Jawa dan lain-lain.”

Hal lainnya, Abdul Hadi menekankan, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri secara esensi tidak berbeda dengan tasawuf-nya Imam Ghazali. Tuntunan sang hujjatul Islam itu memang diterima luas kalangan ahlus sunnah wa al-jamaah di Nusantara.

“Tidak banyak perbedaan antara Al Ghazali dengan tasawufnya Hamzah Fansuri. Tidak banyak ya, kalau dari segi doktrin. Yang berbeda itu cuma penjelasan tentang etika,” tukasnya.

Sumber : Islam DIgest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA