Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Unta Betina Nabi Saleh

Selasa 05 Feb 2019 05:05 WIB

Red: Agung Sasongko

Gurun pasir.

Foto:
Suara menggelegar itu telah membinasakan semua yang ada di daratan kaum Tsamud.

Mereka membujuk orang Tsamud. Kemudian sembilan orang laki-laki untuk mengintai unta betina. Unta itupun ditembak panah oleh Qidar. Sebelum mati, unta betina memperingatkan anaknya untuk pergi. Hingga dia lari ke gunung dan berdoa kepada Allah. Riwayat lain menyebut, anak unta itu pun dibunuh.

Ketika mereka menyembelihnya, Saleh mengatakan, mereka akan diazab tiga hari setelah unta tersebut disembelih. Pada hari ketiga datanglah azab berupa suara yang menggelegar. Surah Fushilat ayat 13 menjelaskan: Jika mereka berpaling, maka katakanlah, 'Aku telah mem peringatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud'.

Suara menggelegar itu telah membinasakan semua yang ada di daratan kaum Tsamud, tanpa ada beda antara yang tinggal di daerahnya dan sedang bepergian ke daerah lain yang jauh. Tidak ada yang selamat, kecuali seorang laki-laki dari kalangan mereka yang pada waktu itu sedang berada di Tanah Haram. Tanah Haram melindungi nya dari azab. Orang itu dipanggil dengan nama Abu Righal. Namun, dia pun tertimpa apa yang menimpa kaumnya begitu keluar dari Haram.

Ada dua orang yang selamat dari azab tersebut. Seorang budak perempuan yang sangat membenci Nabi Saleh, Kalbah binti as-Salaq. Dia menceritakan soal kisah tersebut kepada kabilah lain, lalu usai minum air dari mereka, dia pun meninggal dunia. Begitu juga Abu Righal, saat azab terjadi dia sedang di Tanah Suci. Setelah pulang, batu langit menimpanya hingga meningg al dunia.

Rasulullah memperingatkan para sahabat agar tidak meminta datangnya ayat-ayat (mukjizat) seperti kaumnya Nabi Saleh karena ditakutkan mereka akan mendustakannya, lalu mereka binasa seperti kaum Saleh. Kisah ini mengandung pelajaran tentang pentingnya menjaga akidah.

Meski dibayangi dengan kehidupan dunia yang gemerlap, seseorang harus tetap mempertahankan keimanannya. Wujud konsistensi menjaga akidah adalah rasa syukur. Setiap insan harus berterima kasih kepada Allah atas berbagai nikmat yang diberikan. Juga merasa cukup. Sehingga, tidak meminta sesuatu yang diluar kemampuannya.

Sumber : Dialog Jumat Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA