Kamis 01 Nov 2018 19:30 WIB

Membangun Infrastruktur di Masa Kejayaan Peradaban Islam

Di Sungai Tigris, umat Islam bahkan membuat jembatan ponton.

Rep: Yusuf Ashiddiq/ Red: Agung Sasongko
Jembatan warisan peradaban Islam di Afganistan
Foto: flickr.com
Jembatan warisan peradaban Islam di Afganistan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak lama, bepergian dari satu wilayah ke wilayah lain sudah menjadi bagian hidup. James E Lindsay dalam buku Daily Life in the Medieval Islamic World mengatakan, ada tiga cara bepergian, yakni berjalan kaki, memakai perahu, atau naik hewan tunggangan.

Perahu dipilih masyarakat yang mendiami kawasan pinggiran sungai besar. Mereka yang jauh dari sungai berjalan kaki dan memanfaatkan sarana transportasi darat dengan hewan tunggangan. Di antara ketiganya, alat transportasi di darat paling banyak digunakan. Terlebih setelah ditemukannya roda.

Dengan menggunakan roda, manusia membuat kereta, karavan, atau gerobak yang dihela oleh kuda atau keledai. Daya angkut barang semakin banyak jika memakai kereta. Sebelum ada roda, masyarakat di Jazirah Arab dan Afrika Utara hanya mengandalkan tunggangan mereka, yaitu kuda, unta, ataupun keledai.

Sebagain dari mereka yang tak mempunyai tunggangan, terpaksa berjalan kaki melintasi gurun pasir. Penemuan lain yang tidak kalah hebat adalah sarana jalan batu. Bangsa Romawi kuno membuat jaringan jalan batu agar perjalanan dengan kereta kuda semakin mudah.

Pada masa pemerintahan Islan, mereka mengadopsi teknik pembuatan jalan ini dan menerapkannya di beberapa wilayah. Para insinyur Muslim terus memberi andil dalam bidang ini. Misalnya, membangun konstruksi jembatan. Melalui jembatan, perjalanan darat dapat ditempuh secara lancar tanpa terhalang sungai atau jurang.

James E Lindsay mencatat, di Sungai Tigris, umat Islam bahkan membuat jembatan ponton. Tersedianya infrastruktur yang bagus membuat jalur transportasi semakin sibuk, baik untuk perdagangan, haji, maupun perpindahan manusia. Terbentang sepanjang Sahara, Sungai Nil, hingga Maroko.

Semua jalur melintasi kota-kota besar Islam dan pelabuhan utama. Di sepanjang rute itu, kemudian dibangun sejumlah fasilitas. Misalnya, penginapan, rumah makan, hingga bea cukai. Pos militer juga ditempatkan di beberapa titik guna menjamin keamanan kafilah dagang ataupun masyarakat dari gangguan penyamun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement