Sabtu 13 May 2017 20:11 WIB

Peradaban Islam Warisi Tradisi Kerajinan Logam

Masyarakat banyak yang menumpuk uang logamnya di rumah lantaran merasa kesulitan untuk menghitungnya saat berbelanja.
Foto: Republika/Reiny Dwinanda
Masyarakat banyak yang menumpuk uang logamnya di rumah lantaran merasa kesulitan untuk menghitungnya saat berbelanja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak berabad-abad silam, keindahan barang-barang logam kreasi para perajin Muslim telah terkenal di seluruh dunia. Berbagai teknik pembuatan, motif, dan dekorasi telah mereka kuasai secara paripurna. Pada era kejayaan Islam, kerajinan logam menjelma menjadi sebuah industri besar.

Pencapaian itu tidak mewujud dengan sendirinya. Kaum Muslim mewarisi tradisi pembuatan kerajinan logam dari peradaban kuno, antara lain peradaban Mesir, Persia, dan Sasania. Mereka juga mengapodsi beragam praktik kerajinan logam dari Bizantium serta bangsa Cina.

Semarak industri kerajinan logam di dunia Islam berlangsung sejak abad delapan. Tercatat, tumbuh beberapa sentra produksi barang logam, antara lain di Merv, Khurasan, Turkmenistan, Persia, Jerusalem, Kairo, Damaskus, dan kawasan Mesopotamia.

Umat Muslim memanfaatkan beberapa material sebagai bahan baku utama, yakni emas, perunggu, perak, besi, aluminium, dan tembaga. Bahan-bahan ini dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi aneka barang untuk berbagai keperluan.

Untuk kepentingan militer, misalnya, dibuatlah pedang, mata tombak, dan baju perang. Sementara untuk keperluan rumah tangga, mereka membuat piring, gelas, teko, bejana, jambangan, tempat lilin, serta perhiasan. Ada juga yang kemudian menjadi koin logam.

Bagi keperluan yang lebih penting, hasil kreasi tersebut mencakup berbagai peralatan medis dan penelitian laboratorium. Dari waktu ke waktu, seperti disebutkan Jonathan Bloom serta Sheila Blair pada buku The Grove Encyclopedia of Islamic Art and Architecture, perajin Muslim terus memperbarui teknik maupun metode pembuatan kerajinan logam.

Semula mereka hanya mewarisi tradisi turun-temurun. Namun selanjutnya, mereka mengenal bentuk dan teknik baru yang berasal dari transfer pengetahuan, khususnya dari Persia dan Cina. Pada abad 12, banyak kerajinan dengan gaya dan motif baru yang diperkenalkan di dunia Islam.

Permukaan dari barang-barang logam yang diproduksi tak lagi polos, melainkan telah berhias dengan ragam hiasan serta dekorasi ukir.  Pamor kerajinan logam terangkat dan sejajar dengan ornamen keindahan lainnya, seperti lukisan dinding, arsitektur bangunan, atau karpet.

Motif yang paling banyak dijumpai yakni binatang, tumbuhan, kaligrafi, hingga figur makhluk legenda. Adapun motif bergambar manusia baru mengemuka pada abad 10 hingga 14. Periode itu memang menjadi puncak kegemilangan industri logam di dunia Islam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement